PORTALBANTEN - Setiap pagi, Ela duduk di sudut ruang tamu menunggu jam menunjukkan pukul sembilan. Itu waktu favoritnya. Saat ia menggenggam tangan mungil Dafa, anak sulungnya, dan membawanya ke pusat terapi. Bagi sebagian orang, rutinitas itu biasa. Tapi bagi Ela, itu adalah langkah kecil menuju harapan besar.
Dafa didiagnosis berada dalam spektrum autisme saat usianya baru tiga tahun. Ia tidak menanggapi panggilan, lebih senang bermain sendiri, dan kerap kali menangis tanpa sebab yang jelas. Di awal, Ela dan suaminya kebingungan. Tapi alih-alih larut dalam ketakutan, mereka memilih untuk belajar, memahami, dan mendampingi.
Perjalanan mereka mempertemukan Dafa dengan terapi 'Applied Behavior Analysis' (ABA) atau analisis perilaku terapan. Terapi ini bukan tentang mengubah siapa Dafa, tapi membantunya menjalin koneksi yang lebih baik dengan dunia. Lewat teknik seperti penguatan positif dan pengajaran terstruktur, Dafa mulai mengenal pola, mengikuti instruksi sederhana, dan bahkan mampu mengungkapkan keinginannya dengan gambar.
“ABA mengajarkan keterampilan baru, meningkatkan perilaku yang sudah ada, dan mengurangi perilaku yang menantang,” jelas psikolog Alisha Lalljee dalam wawancara yang dikutip dari Hindustan Times.
Tak berhenti di sana, Dafa juga menjalani terapi bicara. Seorang terapis sabar membimbingnya menyebutkan kata-kata dasar, melatih artikulasi lewat permainan, dan mengenalkan bahasa isyarat. Hasilnya tidak instan, tapi Dina mulai mendengar suara kecil itu mengucapkan, “Ma… makan.”
Terapis okupasi juga menjadi bagian dari tim yang membentuk dunia Dafa. Ia diajarkan cara memakai baju sendiri, menggenggam pensil, hingga bermain dengan tekstur berbeda yang dulu membuatnya histeris.
Gangguan spektrum autisme memang bukan sekadar soal keterlambatan berbicara. Ia mencakup tantangan besar dalam komunikasi sosial, perilaku repetitif, dan keterampilan belajar. Itulah kenapa pendekatan pada anak dengan autisme harus komprehensif.
“Terapi harus disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak dan keluarganya. Dan jangan lupa, pendidikan khusus juga penting untuk menjembatani kesenjangan akademis,” kata Alisha.
Dafa kini berusia tujuh tahun. Ia belum berbicara selancar anak-anak lain seusianya, tapi ia bisa menunjukkan apa yang ia mau, menatap mata ibunya saat ingin dipeluk, dan kadang, mengajak adiknya bermain kejar-kejaran.