PORTAL BANTEN - Dewi Yull, sosok penyanyi senior yang telah lama menghiasi panggung musik Indonesia, kini tengah menghadapi tantangan besar dalam hidupnya. Dalam sebuah wawancara yang diadakan pada 4 Juli 2025 lalu, ia mengungkapkan bahwa ia mengalami musibah kebutaan pada mata kanannya. Meskipun demikian, semangatnya untuk berkarya dan menginspirasi tetap menyala.

Terlahir dengan nama Raden Ayu Dewi Puji Astuti di Cirebon pada 10 Mei 1961, Dewi Yull berasal dari keluarga bangsawan. Ayahnya, HRP Soendaryo, adalah keturunan Kesultanan Cirebon, sementara ibunya, Masayu Devi Hetimawati, berasal dari keluarga bangsawan Melayu Palembang. Latar belakang ini tidak membuatnya berpuas diri, justru mendorongnya untuk berjuang keras dalam kariernya.

Karier musik Dewi dimulai pada tahun 1977 ketika ia mengikuti ajang penyanyi tingkat nasional. Sebelumnya, ia telah mengharumkan nama Provinsi Jawa Barat dengan meraih posisi keempat di ajang serupa. Dalam kompetisi nasional, ia bersaing dengan penyanyi ternama seperti Hetty Koes Endang dan Melky Goeslaw, dan suaranya yang merdu segera menarik perhatian publik.

Ia dikenal luas berkat lagu-lagu pop melankolis, terutama duetnya yang ikonik dengan Broery Pesolima. Salah satu lagu terkenalnya, “Jangan Ada Dusta di Antara Kita”, masih dikenang hingga kini. Selain berkarier di dunia musik, Dewi juga menjajal dunia akting, membintangi sinetron legendaris seperti Losmen dan film-film seperti Gadis dan Kembang Kertas.

Dalam kehidupan pribadinya, Dewi Yull pernah menikah dengan aktor Ray Sahetapy. Pernikahan mereka berlangsung selama 23 tahun dan dikaruniai empat anak. Namun, hubungan itu berakhir pada tahun 2004 setelah Ray mengungkapkan keinginannya untuk menikah lagi. Dewi yang menolak poligami memilih untuk bercerai.

Dua bulan setelah perceraian, Ray menikahi perempuan pilihannya, sementara Dewi memulai babak baru dalam hidupnya. Pada tahun 2008, ia kembali menikah, namun pernikahan ini tidak dipublikasikan secara luas demi menjaga ketenangan anak-anaknya. Baru pada tahun 2012, ia mengungkapkan bahwa ia telah menikah lagi dan kini hidup bahagia bersama suaminya, Srikaton.

Namun, di balik kebahagiaan tersebut, Dewi kini harus menghadapi kenyataan pahit. Ia mengalami gangguan penglihatan yang serius akibat ablasio retina, kondisi yang umum terjadi pada penderita rabun jauh ekstrem. Dengan minus mata kanannya mencapai -25 dan mata kirinya -19, ia merasakan gejala aneh yang membuatnya harus segera dilarikan ke rumah sakit.

Setelah menjalani operasi besar, ia diberi tahu bahwa matanya telah dipasangi silikon. Kini, ia hanya bisa menangkap cahaya dari mata kanannya. Meskipun begitu, Dewi tetap bersyukur karena masih bisa melihat dengan mata kirinya. “Masih ada yang satu,” katanya, menunjukkan sikap positifnya meski dalam keadaan sulit.

Profil Dewi Yull bukan hanya sekadar perjalanan karier dan kehidupan pribadi, tetapi juga tentang ketahanan dan keberanian menghadapi tantangan. Di usianya yang tidak muda, ia tetap menjadi teladan bahwa hidup harus dijalani dengan rasa syukur, apapun rintangan yang dihadapi.