PORTALBANTEN – Hujan deras yang mengguyur wilayah Tangerang Selatan sejak Senin (3/3) malam menyebabkan banjir di lima kecamatan, yakni Ciputat Timur, Pondok Aren, Pamulang, Ciputat, dan Serpong Utara. Sebanyak 1.870 rumah terdampak, sementara BPBD setempat mengerahkan perahu karet untuk mengevakuasi warga. Hingga Selasa (4/3) pagi, air masih menggenangi beberapa wilayah.  

Fenomena ini bukan sekadar peristiwa alam semata, tetapi juga cerminan dari dampak urbanisasi yang semakin pesat. Tangerang Selatan dikenal sebagai kota penyangga ibu kota yang mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa dekade terakhir. Pembangunan perumahan, apartemen, dan pusat bisnis terus meningkat, tetapi apakah tata kelola lingkungan sudah diperhitungkan dengan baik?  

Dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi pembangunan di Tangerang Selatan telah mengurangi area resapan air secara signifikan. Alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan perumahan dan komersial membuat air hujan sulit meresap ke dalam tanah, sehingga lebih cepat mengalir ke sungai dan menyebabkan luapan.  

“Dulu di sini masih banyak lahan terbuka, sekarang sudah berubah jadi ruko dan apartemen. Kalau hujan deras sebentar saja, pasti banjir,” keluh seorang warga di Pondok Aren yang rumahnya terendam hingga 60 cm.  

Selain itu, sistem drainase di banyak kawasan juga belum mampu mengakomodasi peningkatan volume air hujan. Banyak saluran air yang tersumbat akibat sedimentasi dan sampah, memperparah genangan di permukiman padat penduduk.  

Banjir ini menjadi ujian bagi pemerintah daerah dalam merancang solusi jangka panjang. Upaya perbaikan drainase dan pembangunan sumur resapan harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya tindakan reaktif setiap kali banjir terjadi. Selain itu, penegakan regulasi terhadap pengembang perumahan dan kawasan komersial harus lebih ketat agar tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan.  

Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mengurangi risiko banjir, terutama dengan menjaga kebersihan saluran air dan tidak membuang sampah sembarangan. Tanpa kesadaran kolektif dan kebijakan lingkungan yang tegas, Tangerang Selatan berpotensi menghadapi bencana banjir yang semakin parah di masa mendatang.  

Apakah kota ini siap menghadapi tantangan urbanisasi yang lebih besar, atau justru akan semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi? Hanya langkah nyata dari semua pihak yang bisa menjawabnya.*