PORTAL BANTEN– Deretan jenazah kembali muncul dari balik timbunan longsor di Gunung Kuda, Cirebon. Total korban jiwa akibat bencana tambang galian C ini telah mencapai 21 orang, per 2 Juni 2025.

dan empat lainnya masih hilang. Tapi di balik suara sirine dan upaya pencarian, ada gema lain yang terus bergema pertanyaan tentang mengapa aktivitas pertambangan tetap berlangsung di tempat yang oleh banyak ahli sudah lama dinyatakan berbahaya

Gunung Kuda bukan sekadar titik di peta bencana. Ia adalah simbol nyata dari benturan antara desakan perut dan peringatan geologi. Ketika wilayah dengan kemiringan lereng lebih dari 45 derajat dijadikan lokasi eksploitasi material tanah dan batu, maka longsor bukan lagi risiko, melainkan keniscayaan.

Di banyak desa sekitar Gunung Kuda, tambang bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah sumber penghasilan utama, penggerak ekonomi lokal, bahkan sering dikaitkan dengan kontribusi terhadap pembangunan fasilitas umum. Sayangnya, pendekatan ini sering menafikan kajian ilmiah yang jelas-jelas menunjukkan tingginya potensi bencana.

Kepala BNPB, Abdul Muhari, menyebut bahwa Gunung Kuda sudah termasuk zona merah sejak lama. Namun, peringatan tersebut kerap kalah dari kebutuhan ekonomi yang lebih mendesak bagi warga.

Perizinan yang Longgar dan Peringatan yang Diabaikan, KDM Cabut Izin

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam keterangannya menyatakan bahwa Dinas ESDM provinsi sebenarnya telah berulang kali mengeluarkan peringatan kepada para pengelola tambang Gunung Kuda. Namun, peringatan itu tidak digubris. Ironisnya, dua dari tiga badan usaha pengelola tambang tersebut merupakan koperasi milik pondok pesantren, yang seharusnya lebih berhati-hati dalam menjaga keselamatan jamaah dan masyarakat.

Kini, ketiganya telah dicabut izinnya. Tapi pencabutan ini datang terlambat setelah dua puluh satu nyawa hilang.

Longsor bukan bencana yang netral. Ia terjadi ketika manusia memilih untuk tidak mendengarkan. Ketika tebing-tebing terus dikikis, sistem drainase diabaikan, dan pengawasan melemah, maka bencana hanyalah soal waktu. Pergerakan tanah yang mendadak pada Senin sore memaksa tim SAR menghentikan pencarian, memperlihatkan betapa rentannya lokasi itu.