PORTALBANTEN - Langkah baru dilakukan Komisi Informasi DKI Jakarta untuk memperkuat semangat keterbukaan informasi di ibu kota. Dalam upaya menjangkau masyarakat dengan cara yang lebih komunikatif dan membumi, lembaga ini menunjuk komedian Cak Lontong sebagai duta keterbukaan informasi. Dikenal dengan gaya jenaka yang penuh sindiran cerdas, Cak Lontong dipercaya bisa menjembatani pesan-pesan serius agar lebih mudah diterima publik.
Dalam acara peluncuran KIP Coaching Clinic dan diskusi kelompok terarah pada Kamis, 24 April 2025, Wakil Ketua KI DKI Jakarta Luqman Hakim Arifin menyebut penunjukan Cak Lontong sebagai bentuk inovasi dalam menyampaikan isu keterbukaan informasi. Ia menilai kehadiran figur publik yang dekat dengan masyarakat dapat membantu mengurai jarak antara badan publik dan warga.
Menanggapi perannya, Cak Lontong menyatakan kesiapannya mengemban amanah ini, meski tetap dengan gaya santai yang menjadi ciri khasnya. Ia menekankan pentingnya peran Komisi Informasi dalam menjamin hak publik terhadap informasi yang transparan dan mudah diakses. Baginya, fungsi jauh lebih penting daripada jabatan.
Ia juga menyoroti bahwa informasi yang tidak disampaikan dengan baik justru bisa menimbulkan salah paham atau bahkan konflik. Maka dari itu, ia berkomitmen membantu menyebarkan pemahaman bahwa keterbukaan bukan semata prosedur administratif, melainkan bagian penting dari kepercayaan publik terhadap institusi.
Penunjukan ini menjadi bagian dari strategi besar KI DKI Jakarta untuk mendorong transformasi di tubuh badan publik. Berdasarkan evaluasi E-Monev tahun 2024, lebih dari separuh badan publik di Jakarta masih dinilai tidak informatif. Dari total 519 lembaga, sebanyak 267 belum menunjukkan keterbukaan yang memadai.
Ketua KI DKI Jakarta Harry Ara Hutabarat menyebut kondisi tersebut sebagai tantangan yang perlu disikapi dengan pendekatan baru. Menurutnya, publik tidak bisa terus dibiarkan berspekulasi soal informasi yang seharusnya menjadi hak mereka. Karena itu, coaching clinic diluncurkan untuk membantu instansi memahami sekaligus menerapkan prinsip keterbukaan.
“Kita tidak bisa biarkan publik terus menerka-nerka soal informasi yang seharusnya menjadi hak mereka. Oleh karena itu, kami luncurkan coaching clinic untuk memperbaiki kondisi ini secara bertahap,” ujarnya.
Dengan kolaborasi antara pendekatan edukatif dan peran publik figur seperti Cak Lontong, diharapkan isu keterbukaan informasi bisa keluar dari ruang-ruang formal dan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi digital, transparansi bukan hanya nilai moral, tapi juga kebutuhan yang mendasar.*