PORTALBANTEN – Penangkapan Fachri Albar untuk ketiga kalinya akibat kasus penyalahgunaan narkoba kembali membuka tabir kelam tentang sulitnya memutus rantai kecanduan, bahkan di lingkungan keluarga publik figur. Aktor kenamaan ini diamankan di kediamannya di Jakarta Selatan oleh Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat, dan tengah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, pada 22 April 2025.

Meski detail barang bukti belum diungkap secara resmi, pihak kepolisian telah mengonfirmasi bahwa penangkapan terkait penyalahgunaan narkotika. Bagi publik, ini bukan kali pertama nama Fachri dikaitkan dengan kasus serupa. Pada tahun 2007 ia masuk daftar pencarian orang setelah ditemukan kokain di kamarnya. Kemudian pada 2018, ia kembali diamankan dengan barang bukti sabu dan ganja, dan dijatuhi vonis rehabilitasi.

Kisah kelam ini bukan hanya soal satu individu. Fachri tumbuh di tengah keluarga besar yang juga pernah berurusan dengan narkoba. Sang ayah, Ahmad Albar, musisi legendaris Indonesia, sempat mendekam di penjara karena kasus serupa pada 2007. Sementara sang adik, Fauzi Albar atau Ozzy, juga ditangkap pada 2018 dalam kasus narkoba.

Apa yang menimpa Fachri Albar menunjukkan bahwa permasalahan narkoba bukan hanya soal kriminalitas, melainkan isu sistemik dan psikologis yang kompleks. Meski sempat menjalani rehabilitasi dan mengucap janji untuk berubah sebagaimana pernah diungkap sang istri, Renata Kusmanto pada 2018, Fachri tampaknya belum mampu sepenuhnya lepas dari bayang-bayang zat adiktif tersebut.

Lingkaran ini pun mencerminkan realitas yang kerap terjadi dalam keluarga, di mana pola dan trauma bisa berulang lintas generasi. Dalam kasus keluarga selebritas, tekanan hidup dalam sorotan publik, stres, dan akses terhadap berbagai fasilitas bisa menjadi faktor pemicu yang memperkuat kecenderungan ini.*