PORTALBANTEN -- Di tengah kesibukan kota besar, semakin banyak orang yang mengadopsi gaya hidup aktif. Di area Gelora Bung Karno (GBK), kita bisa melihat berbagai aktivitas seperti jogging, lari, hingga pound fit setelah jam kerja. Ini bukan hanya tentang kesehatan, tetapi juga menjadi cara untuk melepaskan diri dari rutinitas dan menjalin hubungan sosial.
Namun, di balik semangat berolahraga, sering kali kita melupakan pentingnya asupan nutrisi yang seimbang. Banyak yang merasa cukup sehat hanya karena rutin bergerak, padahal tanpa nutrisi yang tepat, tubuh bisa cepat lelah dan risiko cedera pun meningkat.
Dalam mobilitas yang serba cepat, menjaga keseimbangan nutrisi menjadi tantangan tersendiri. Mari kita lihat beberapa mitos yang sering beredar seputar olahraga dan nutrisi.
Mitos pertama adalah bahwa olahraga rutin sudah cukup untuk menjaga kebugaran. Faktanya, tanpa dukungan nutrisi yang memadai, tubuh akan lebih cepat lelah. Nutrisi seperti protein untuk otot, kalsium untuk tulang, dan serat untuk pencernaan tetap harus dipenuhi setiap hari agar performa tetap optimal.
Mitos kedua menyatakan bahwa nutrisi hanya bisa dipenuhi dari makanan berat. Padahal, di tengah aktivitas yang padat, asupan tambahan yang praktis dan bernutrisi sangat diperlukan. Minuman siap saji yang kaya protein, kalsium, dan serat bisa menjadi solusi untuk menjaga energi tetap stabil.
Mitos ketiga adalah bahwa kopi tidak bermanfaat bagi pelaku olahraga. Sebenarnya, kafein dalam kopi dapat meningkatkan fokus dan daya tahan saat berolahraga. Waktu terbaik untuk mengonsumsinya adalah 45-60 menit sebelum aktivitas fisik.
“Aktivitas fisik memerlukan asupan nutrisi lengkap seperti protein, kalsium, serat pangan, serta antioksidan alami dari buah zaitun untuk menjaga energi tetap stabil,” kata dr. Laurencia Ardi, Health Communicator Kalbe Nutritionals. “Tantangannya adalah bagaimana memenuhi semua kebutuhan ini secara praktis di tengah kesibukan harian.”
Dengan pemahaman yang tepat tentang nutrisi dan olahraga, setiap individu dapat menjadi lebih cerdas dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan asupan gizi, tanpa harus mengubah gaya hidup mereka secara drastis.*