PORTALBANTEN -- Perayaan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-543 tahun ini tak sekadar upacara tahunan. Melalui tema “Raksa Jaga Ditha”, Pemerintah Kota Bogor mencoba menggeser makna peringatan HJB menjadi momentum kebangkitan partisipasi publik dalam menjaga keberlanjutan kota.

Kick Off logo dan kalender kegiatan yang digelar Rabu (14/5) di Paseban Sri Baduga, menjadi pembuka rangkaian aksi kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat yang dirancang tidak berhenti di panggung perayaan, tetapi menjangkau ruang-ruang aksi nyata warga.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyatakan bahwa semangat yang diusung bukan hanya milik pemerintah, tapi adalah panggilan untuk seluruh warga. “Ini bukan perayaan seremonial biasa. Raksa Jaga Ditha adalah ajakan untuk merawat kota ini bersama,” ujarnya.

Menurutnya, pelibatan aktif masyarakat dalam berbagai kegiatan HJB, mulai dari sosial, budaya hingga lingkungan, adalah bentuk nyata dari demokrasi partisipatif.

Logo HJB yang menampilkan elemen alam dan budaya Bogor bukan sekadar ornamen visual. Ketua Panitia HJB 543, Rino Indira Gusniawan, menjelaskan bahwa desain itu dimaksudkan untuk menggugah kesadaran kolektif warga.

“Logo ini adalah representasi nilai: dari bumi, oleh kita, untuk kita. Kami ingin mengubah cara kita melihat HJB, dari pesta kota menjadi gerakan kota,” kata Rino.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, rangkaian HJB tahun ini dirancang lintas sektor. Kegiatan gotong royong warga, penguatan UMKM lokal, pembersihan sungai dan taman, hingga revitalisasi ruang-ruang komunitas akan dilakukan serempak.

“Dulu mungkin kita hanya jadi penonton perayaan kota. Sekarang warga jadi pelaku utama,” ujar salah satu relawan komunitas lingkungan, Dira, yang ikut dalam peluncuran HJB.

Dengan perubahan pendekatan ini, HJB ke-543 menjadi tonggak transformasi: bukan hanya menengok ke belakang menghormati sejarah, tapi bergerak maju membangun masa depan yang berkelanjutan, adil, dan inklusif.