PORTALBANTEN – Kota Bogor kehilangan salah satu putra terbaiknya. Iswara Natanegara, Wali Kota Bogor periode 1999–2004, wafat pada Minggu, 6 Juli 2025. Kepergian almarhum tak hanya meninggalkan duka, tetapi juga warisan keteladanan yang terus dikenang masyarakat dan para penerusnya.

Dalam kepemimpinannya, Iswara dikenal bukan hanya sebagai birokrat, tetapi juga sebagai tokoh yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, budaya, dan pelayanan publik yang inklusif. Gaya kepemimpinannya yang bersahaja menjadikannya sosok pemimpin yang dirindukan.

"Beliau orang baik. Kepeduliannya terhadap seni, budaya, dan masyarakat kecil membuatnya selalu dekat di hati rakyat," ujar HRM. Danang Donoroso, Plt Ketua PWI Jawa Barat.

Danang juga menyampaikan belasungkawa atas nama Sekber Wartawan Bogor Raya, serta mendoakan agar almarhum wafat dalam keadaan husnul khotimah.

Pemimpin yang Menghargai Budaya dan Identitas Daerah

Di tengah arus modernisasi yang mulai menggerus identitas lokal, Iswara berdiri sebagai pemimpin yang tetap memperjuangkan eksistensi seni dan budaya tradisional di Kota Bogor. Ia bahkan menerima Tanda Tumarina dari para seniman lokal, simbol apresiasi atas kepeduliannya terhadap keberlangsungan kesenian daerah.

Tak hanya itu, ia juga memperjuangkan program-program sosial yang menyentuh masyarakat secara langsung, termasuk dalam bidang keluarga berencana, yang membawanya meraih penghargaan nasional.

Sebagai Wali Kota Bogor ke-22, menggantikan Edy Gunardi, Iswara dikenal mampu menjembatani berbagai kepentingan dengan pendekatan yang humanis. Ia tidak hanya memimpin dengan kewenangan, tetapi juga dengan keteladanan moral dan integritas.

“Keteladanan beliau jadi rujukan banyak pemimpin muda di Bogor. Ia pemimpin yang tidak silau jabatan, tapi terus bekerja dengan hati,” ungkap Dian Intania, tokoh masyarakat yang turut mengajak warga untuk mendoakan almarhum.