PORTAL BANTEN - Industri rokok di Indonesia tengah menghadapi tekanan berat dari berbagai sisi mulai dari regulasi cukai, dan lainnya. Tekanan ini juga menyisakan dampak besar bagi para pemain utama, termasuk Susilo Wonowidjojo, Presiden Direktur PT Gudang Garam Tbk, yang kekayaannya terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut data Forbes tahun 2024, kekayaan Susilo tercatat sekitar US$2,9 miliar atau setara Rp47,4 triliun (kurs Rp16.345 per dolar AS). Jumlah ini turun drastis jika dibandingkan dengan kekayaannya pada tahun 2018 yang mencapai US$9,2 miliar. Artinya, selama enam tahun terakhir, kekayaannya menyusut hingga 68,5% atau setara dengan Rp102,9 triliun.

Meski secara langsung Susilo hanya menggenggam sekitar 0,09% saham Gudang Garam (1.709.685 lembar saham), posisinya sebagai pemimpin utama perusahaan dan anggota keluarga pemilik menjadikan kekayaan pribadinya sangat berkaitan dengan performa perusahaan.

Gudang Garam yang Terus Menurun

Penurunan kekayaan ini tak lepas dari merosotnya kinerja keuangan Gudang Garam. Laporan keuangan kuartal I 2025 menunjukkan bahwa perusahaan hanya mampu membukukan laba bersih sebesar Rp104,43 miliar. Angka ini anjlok tajam, sekitar 82,46% dari Rp595,57 miliar yang diraih pada periode yang sama tahun lalu.

Hal ini bukan kejutan bagi sebagian pengamat industri, mengingat industri rokok saat ini berada dalam situasi penuh tekanan: pengetatan aturan iklan, peningkatan tarif cukai tiap tahun, dan mulai menurunnya minat rokok konvensional di kalangan muda.

Apa yang dialami Susilo Wonowidjojo bukan hanya sekadar gejolak sesaat. Penurunan kekayaannya mencerminkan tantangan struktural yang tengah dihadapi industri rokok nasional. Sementara beberapa kompetitor mulai melakukan diversifikasi ke produk tembakau alternatif dan sektor non-tembakau, Gudang Garam dinilai masih belum terlalu agresif merespons perubahan pasar.

Kondisi ini menjadi refleksi penting bagi para pemimpin bisnis lama: era kejayaan industri tradisional kini menuntut transformasi yang lebih cepat dan inovatif. Bagi Susilo, penurunan kekayaan mungkin hanyalah angka. Namun, bagi industri, ini adalah alarm bahwa model bisnis lama tak lagi cukup untuk bertahan, harus berinovasi lagi, lagi dan lagi.*