PORTAL BANTEN - Dalam kegelapan malam yang mencekam, Suyit, seorang warga Kabupaten Jember, merasakan ketegangan saat KMP Tunu Pratama Jaya berlayar menuju Bali. Kapal yang ia naiki berangkat dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi sekitar pukul 22.56 WIB, dengan harapan mengirimkan muatan ikan ke pulau dewata.
Namun, tak lama setelah berlayar, sekitar 30 menit kemudian, Suyit merasakan hentakan keras dari dalam pikap yang ia kemudikan. Gelombang besar menerpa kapal, dan dalam sekejap, situasi berubah menjadi mencekam.
"Tiba-tiba kapal miring. Saya langsung lari ke atas mencari pelampung," ungkap Suyit saat berada di Posko Informasi Gabungan Pelabuhan Ketapang.
Dalam hitungan menit, kapal itu mulai miring dan perlahan-lahan tenggelam. "Kejadiannya memang sangat cepat. Paling tiga menit (proses kapal tenggelam)," tambahnya.
Dengan insting bertahan hidup, Suyit dan dua rekannya melompat ke laut, berusaha menyelamatkan diri dari kapal yang semakin tenggelam. Dalam kegelapan, mereka berenang ke arah yang tidak pasti, berharap menemukan keselamatan.
Setelah beberapa jam berjuang, Suyit akhirnya diselamatkan oleh tim pencari yang menggunakan kapal karet besar. "Total ada sekitar 16 orang di perahu karet itu," jelasnya.
Meski Suyit dan seorang rekannya berhasil selamat, nasib berbeda dialami oleh teman mereka yang lain. Tim penyelamat membawa Suyit dan penumpang lainnya ke daratan di perairan Gilimanuk.
Di sore harinya, Suyit bersama 20 korban selamat lainnya dipindahkan dari Gilimanuk menuju Posko Ketapang Banyuwangi, di mana ia akhirnya bertemu kembali dengan keluarganya yang sudah menunggu dengan cemas.
Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya yang dilaporkan tenggelam di Selat Bali terjadi sekitar pukul 23.35 WIB. Kapal tersebut mengangkut 53 penumpang dan 12 kru, total 65 orang, serta 22 unit kendaraan. Dari insiden ini, 30 penumpang dipastikan selamat, sementara enam orang dilaporkan meninggal dunia.*