PORTAL BANTEN - Enam tahun telah berlalu sejak bencana banjir bandang dan longsor melanda wilayah barat Kabupaten Bogor pada tahun 2020. Namun, kondisi pemulihan di Kecamatan Sukajaya, Cigudeg, dan Jasinga masih jauh dari harapan. Jurnalis daerah, Dede Surya, mengungkapkan keprihatinannya melalui pesan terbuka yang menyoroti lambannya penanganan normalisasi Sungai Cidurian dan perbaikan infrastruktur yang tak kunjung terealisasi.
Dede menegaskan bahwa kerusakan parah di bantaran Sungai Cidurian telah menghancurkan lahan pertanian dan perkebunan warga. Masyarakat setempat merasa belum ada langkah signifikan dari pemerintah untuk menangani ancaman tersebut.
“Lahan warga, sawah, dan perkebunan rusak. Mereka menunggu negara hadir, bukan hanya melalui janji,” ujar Dede.
Di hulu, seperti di Desa Urug dan Harkatjaya, Kecamatan Sukajaya, proses pemulihan telah berjalan. Namun, sejumlah wilayah lainnya masih belum tersentuh, termasuk Kecamatan Cigudeg yang meliputi Desa Suakaraksa, Desa Sukamaju, Desa Bunar, dan Desa Mekarjaya. Di Kecamatan Jasinga, desa-desa seperti Kalong Sawah, Sipak, Pamagarsari, Jasinga, dan Koleang juga belum mendapatkan perhatian yang memadai.
Selain masalah normalisasi Sungai Cidurian, Dede juga menyoroti akses ekonomi warga yang terhambat akibat jembatan yang rusak. Di Kampung Cigowong, Desa Sukamaju, jembatan tersebut menjadi akses penting bagi warga untuk menuju Desa Cigudeg dan pasar. Lebih dari 3.000 jiwa di Kecamatan Cigudeg dan Sukajaya sangat bergantung pada jembatan yang kini dalam kondisi tidak layak. Jembatan gantung di Kampung Papangungan, Desa Bunar, yang juga rusak akibat banjir bandang, hingga kini belum dibangun kembali.
“Sudah enam tahun warga menunggu. Jembatan itu bukan hanya soal infrastruktur; itu akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi,” tegasnya.
Dede mengungkapkan bahwa pemerintah desa, pemerintah kecamatan, hingga DPUPR Kabupaten Bogor telah berkali-kali mengirim surat kepada BBWS C3 Serang. Namun, pihak BBWS menyampaikan bahwa pada tahun 2025 tidak ada anggaran untuk normalisasi Sungai Cidurian karena efisiensi anggaran.
Menutup pesannya, Dede meminta pemerintah pusat, provinsi, dan Kabupaten Bogor untuk segera mengambil langkah konkret demi kepastian pemulihan wilayah dan keselamatan warga.
“Warga hanya menuntut hal dasar: sungai yang aman, lahan yang pulih, dan jembatan yang layak. Mereka sudah menunggu terlalu lama,” tutupnya.