PORTAL BANTEN – Peringatan Hari Sastra Indonesia ke-12 dirayakan meriah di Plasa Insan Berprestasi, Gedung A KEMENDIKBUDRISTEK RI, Jakarta, pada Rabu, 25 Juni 2025. Acara ini sekaligus memperingati 59 tahun Majalah Sastra Horison dan tasyakuran 90 tahun Taufiq Ismail, seorang maestro yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia puisi Indonesia selama lebih dari enam dekade.
Acara ini menjadi momen reflektif dan apresiatif bagi para insan sastra dan budaya. Sejumlah tokoh penting hadir, termasuk Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Agama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Politisi, seniman, budayawan, dan generasi muda pecinta sastra turut hadir.
Sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi panjang Taufiq Ismail, Horison Library meluncurkan enam jilid buku yang merekam jejak intelektual dan spiritual sang penyair. Buku-buku tersebut meliputi: Sajak dan Perjalanan, Puisi-puisi Chairil Anwar, Taufiq Ismail dan Joko Pinurbo dalam Terjemahan Asing, Puisi Taufiq Ismail dalam Terjemahan Arab, Turki, dan Bosnia, Puisi dan Prosa, Surat dan Cerita, Karya Taufiq Ismail dalam 50 Buku, dan Taufiq Ismail dalam Angka dan Fakta.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan apresiasinya dalam sambutannya.
"Pagi ini, dengan penuh rasa bangga, saya ucapkan selamat atas terselenggaranya kegiatan 'Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit'. Taufiq Ismail adalah nama besar dalam sastra Indonesia. Karya-karyanya melintasi tiga zaman dan menjadi saksi atas berbagai peristiwa penting bangsa. Ia bukan sekadar penyair, tapi penjaga nilai, perekam sejarah sosial dan budaya Indonesia," ungkap Fadli Zon.
Fadli Zon juga menekankan pentingnya Taufiq Ismail sebagai inspirasi bagi generasi muda.
"Di usia 90 tahun, jejak Taufiq Ismail adalah warisan berharga bagi Indonesia. Kami berharap, generasi muda dapat meneladani semangat, keberanian, dan ketajaman pemikiran beliau. Apalagi karya-karya beliau telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, mulai dari Inggris, Arab, Cina, Jepang, Turki dan lainnya. Ini bukti bahwa sastra Indonesia punya tempat di dunia internasional," lanjut Fadli Zon.

Selain itu acara dihadiri oleh H. Ricky Kurniawan, Lc yang juga sering menerjemahkan puisi ke dalam bahasa Arab, yang dibawakan sang Maestro Taufiq Ismail dalam puisi tentang Palestina.
Suasana acara semakin syahdu saat puisi-puisi Taufiq Ismail dihidupkan kembali lewat alunan lagu. Penyanyi Fryda Lucyana, Sam Bimbo, dan Lilla Ine Sujanti mempersembahkan lagu-lagu yang liriknya bersumber dari karya Taufiq, seperti Dunia Ini Panggung Sandiwara, Ketika Tangan dan Kaki Berkata, Rindu Rasul, hingga Adakah Suara Cemara.