PORTALBANTEN — Meski saat ini tengah mendekam di tahanan sebagai tersangka kasus dugaan pemerasan terhadap dr. Reza Gladys, Nikita Mirzani menunjukkan bahwa dirinya tak kehilangan suara. Dari balik jeruji, ia memilih untuk melawan balik dengan jalur hukum, bukan hanya soal nama baik, tapi soal hak atas privasi yang menurutnya telah dilanggar.

Langkah hukum itu ditujukan kepada akun TikTok yang menyebarluaskan rekaman suara pribadi antara dirinya, Reza Gladys, dan Altaubah Mufid, suami Reza. Kuasa hukum Nikita, Fahmi Bachmid, resmi mendaftarkan laporan tersebut ke Polda Metro Jaya pada Rabu, 16 April 2025, yang teregister dalam laporan LP/B/2508/IV/2025/SPKT/POLDA METRO JAYA.

“Ini bukan sekadar balasan emosional, tetapi perlindungan terhadap hak-hak dasar individu, termasuk hak privasi,” ungkap tim hukum Nikita dalam unggahan media sosial.

Dalam laporan itu, pihak Nikita menilai akun tersebut melanggar Pasal 31 jo 47, dan/atau Pasal 32 jo 48 dari UU ITE yang telah diperbarui dengan UU No. 1 Tahun 2024.

Kronologi yang disampaikan tim Nikita menyebutkan bahwa pada Februari 2025, rekaman percakapan tersebut mulai beredar tanpa izin dan dengan cepat viral di platform TikTok. Nikita menilai, penyebaran konten pribadi tanpa persetujuannya telah merugikan dirinya secara personal dan hukum.

“Mari kita lihat seberapa sigap aparat penegak hukum, khususnya Polda Metro Jaya. Saya akan terus update perkembangannya,” tulis Nikita melalui akun Instagram-nya.

Di sisi lain, proses hukum terhadap Nikita terus berjalan. Ia ditahan sebagai tersangka atas laporan pemerasan yang dilayangkan Reza Gladys. Dalam kasus ini, asistennya, Mail Syahputra, juga ditetapkan sebagai tersangka.

Dugaan pemerasan itu mencuat setelah Reza mentransfer Rp2 miliar ke rekening Nikita pada 14 November 2024, usai merasa tertekan karena disinggung dalam siaran langsung TikTok.

Namun kasus ini berkembang melebar. Kuasa hukum Reza kini juga menyoroti peran dua nama lain: dr. Oky Pratama dan tokoh bernama Doktif. Bukti percakapan yang mereka serahkan menunjukkan adanya saran untuk “menyumpal mulut Nikita”, diduga agar persoalan tak berlanjut di ruang publik.