PORTALBANTEN - Setelah sempat terperosok ke titik terendah sepanjang sejarah, nilai tukar rupiah mulai menunjukkan sinyal pemulihan ringan. Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi (10/4), rupiah tercatat menguat sebesar 40 poin atau 0,24 persen menjadi Rp16.833 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.873. Meski kenaikan ini belum signifikan, banyak pihak melihatnya sebagai angin segar di tengah tekanan eksternal yang kian kompleks.
Sebelumnya, pada awal pekan (Senin, 7/4), rupiah sempat tergelincir ke level Rp17.261 per dolar AS dalam perdagangan non-deliverable forward (NDF) level terburuk yang pernah dicapai. Penyebab utamanya adalah sentimen negatif dari luar negeri, terutama kebijakan tarif balasan (retaliatory tariff) yang diumumkan Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia.
Kebijakan itu sontak memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi perang dagang jilid baru. Investor global pun bergegas mengalihkan dana ke aset-aset aman (safe haven), seperti dolar AS dan emas, yang menyebabkan tekanan beruntun pada mata uang negara berkembang.
Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam. Mengandalkan strategi triple intervention, BI masuk ke tiga arena sekaligus: pasar spot valuta asing, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN). Langkah ini bertujuan menjaga likuiditas dan mempersempit volatilitas yang berlebihan.
“BI fokus menjaga stabilitas, bukan mengejar level tertentu. Intervensi dilakukan sesuai kebutuhan pasar,” kata Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI.
Menariknya, tekanan terhadap rupiah kali ini bukanlah cerminan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Justru, banyak analis menyebut bahwa faktor eksternal mendominasi. Mulai dari kebijakan proteksionis AS, hingga ketegangan geopolitik global yang terus bereskalasi, menjadi beban bagi banyak mata uang di Asia.
Nilai Rupiah Melemah?
Dalam situasi seperti ini, ketahanan ekonomi Indonesia diuji. Stabilitas makro, cadangan devisa, hingga koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi senjata utama untuk menghadapi dinamika pasar yang fluktuatif.
Meski sempat melemah tajam, penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa respons kebijakan dan persepsi investor belum sepenuhnya negatif. Namun, pemulihan akan bersifat bertahap dan penuh kehati-hatian, selama ketegangan perdagangan global belum mereda.