PORTALBANTEN -- Pangeran Kornel, yang sering disalahartikan sebagai nama Eropa, sebenarnya adalah pahlawan Sunda yang lahir dengan nama R. Asep Jamu. Dalam sejarah, beliau dikenal sebagai sosok yang berani melawan penindasan yang dialami rakyatnya.

Beberapa bulan lalu, saat saya mengunjungi makam kakek buyutnya, Pangeran Panjunan bin Syaikh Datul Kahfi di Cirebon, saya mendengar juru kunci makam menyebutnya dengan sebutan Pangeran Kornelis. Hal ini menciptakan kesan bahwa nama tersebut berasal dari budaya Eropa. Namun, kenyataannya jauh lebih dalam dari itu.

Selama menjabat sebagai Dalem atau Bupati Sumedang dari tahun 1791 hingga 1828, beliau dikenal dengan gelar Pangeran Kusumahdinata X/ Surianegara III. Panggilan akrabnya, P. Kornel, muncul karena beliau mendapatkan pangkat Kolonel Tituler dari pemerintah Belanda. Namun, lidah orang Sunda kesulitan mengucapkan nama tersebut, sehingga lebih dikenal dengan sebutan Kornel.

Pangeran Kornel adalah salah satu pemimpin besar yang berjuang untuk rakyatnya. Keberaniannya melawan kerja rodi yang diterapkan oleh Gubernur Hindia Belanda, Willem Deandels, sangatlah terkenal. Beliau berjuang melawan kebijakan yang sangat kejam dalam pembangunan Jalan Anyer-Panarukan, yang mengorbankan banyak nyawa.

Atas jasa dan keberaniannya, kini terdapat patung beliau di Cadas Pangeran, Sumedang, sebagai penghormatan atas perjuangannya melawan penindasan. Pangeran Kornel bukan hanya sekadar nama, tetapi simbol keberanian dan perjuangan rakyat Sunda.

"Pangeran Kornel adalah sosok yang patut dikenang, bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai pahlawan yang berjuang demi keadilan," kata Ahmad Fahir, Wakil Ketua Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa.*