PORTALBANTEN – Permata Bank memulai tahun 2025 dengan langkah yang stabil dan penuh keyakinan, berkat fundamental keuangan yang kuat dan strategi transformasi digital yang terus diperkuat. Di tengah tekanan ketidakpastian ekonomi global, bank ini berhasil menjaga pertumbuhan kredit sebesar 6% secara tahunan (YoY), disertai dengan peningkatan efisiensi dan kualitas aset yang terus membaik.

Pendapatan operasional sebelum provisi tumbuh 9,2% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi sinyal bahwa strategi bisnis yang diterapkan bank mulai menunjukkan hasil positif. Rasio kredit bermasalah (NPL Gross) yang turun ke level 2,0% mempertegas komitmen Permata Bank dalam menjaga portofolio kredit tetap sehat dan terukur.

Permata Bank juga menunjukkan komitmen pada penguatan kerja sama lintas negara melalui dukungan induk usaha, Bangkok Bank. Kolaborasi ini tak hanya membuka peluang ekspansi regional, tapi juga memperluas akses pada berbagai inovasi teknologi dan solusi keuangan modern.

Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli, menegaskan bahwa bank kini fokus pada pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Dengan semangat mempercepat transformasi digital dan menjaga relevansi layanan, bank menargetkan untuk terus hadir sebagai institusi keuangan yang adaptif dan inklusif di tengah tantangan zaman.

"Kami akan terus memperkuat layanan dan digitalisasi, mendorong inklusi keuangan, serta meningkatkan produktivitas dan positivitas dalam organisasi, agar Permata Bank dapat terus relevan dan kompetitif di tengah perubahan yang begitu cepat", ujarnya dalam keterangan pers pada Rabu 23 April 2025.

Optimalisasi neraca juga menjadi strategi penting Permata Bank dalam menjaga efisiensi dan ketahanan finansial. Rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) tercatat meningkat ke 83,2%, sementara total aset naik 4,5% YoY menjadi Rp264,3 triliun. Simpanan nasabah turut tumbuh sebesar 4,8%, didorong oleh kenaikan Dana Pihak Ketiga berbasis tabungan dan giro (CASA) sebesar 6,5%, menjadikan rasio CASA meningkat menjadi 58,6%.

Digitalisasi dan efisiensi operasional terus menjadi motor penggerak utama. Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) mengalami perbaikan, turun menjadi 48,6% dari sebelumnya 50,2% pada kuartal pertama 2024. Hasil ini memperlihatkan bahwa inovasi digital tidak hanya mempercepat layanan, tetapi juga berdampak nyata terhadap efisiensi biaya.

Dalam hal penyaluran kredit, pertumbuhan yang konsisten terlihat dari segmen korporasi yang naik 7% YoY, sementara segmen komersial dan konsumen masing-masing tumbuh 5,3% dan 4,3%. Rasio Loan at Risk (LAR) juga menunjukkan penurunan menjadi 7,6%, mendukung profil risiko yang semakin sehat. Strategi pengelolaan risiko dijalankan secara disiplin, dengan rasio cakupan NPL dan LAR yang tinggi, yaitu masing-masing 387% dan 101%.

Modal yang kuat tetap menjadi pondasi utama. Dengan rasio CAR sebesar 33,6% dan CET-1 di angka 25,6%, Permata Bank masuk dalam jajaran bank dengan struktur permodalan terkuat di Indonesia. Kekuatan ini memberi ruang bagi pengembangan bisnis ke depan, baik melalui ekspansi organik maupun langkah strategis anorganik.