JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) berhasil mencatatkan rekor kinerja keuangan dan produksi yang luar biasa sepanjang tahun 2024, mencerminkan komitmennya dalam mendorong transisi energi nasional melalui pengembangan sumber daya panas bumi. Dalam acara media briefing yang digelar di Jakarta pada 26 Maret 2025, PGE mengungkapkan strategi ekspansi besar-besaran untuk memperkuat peran panas bumi sebagai pilar utama dalam mencapai target net zero emission (NZE) 2060.
Direktur Utama PGE, Julfi Hadi, menegaskan pentingnya potensi panas bumi Indonesia dalam mendukung swasembada energi dan ketahanan energi nasional. “Dengan cadangan panas bumi yang melimpah, PGE berkomitmen untuk mempercepat pengembangan energi bersih yang dapat mendukung visi pemerintah dalam mencapai net zero emission 2060 dan memperkuat ekonomi Indonesia,” ujar Julfi Hadi.
Kinerja Keuangan dan Produksi Tertinggi dalam Sejarah
Sepanjang tahun 2024, PGE mencatatkan pendapatan sebesar USD 407,12 juta, naik 0,20% dibandingkan tahun sebelumnya, mencatatkan angka tertinggi dalam sejarah perusahaan. Produksi listrik dan uap juga mencapai angka rekor, yakni 4.827 GWh. PGE berhasil mempertahankan efisiensi operasional yang kuat dengan laba bersih sebesar USD 160,30 juta dan EBITDA yang mencapai USD 324,06 juta, dengan margin EBITDA yang mengesankan, yaitu 79,60%.
Direktur Keuangan PGE, Yurizki Rio, menjelaskan bahwa meski pendapatan mengalami kenaikan, perusahaan juga menghadapi peningkatan beban operasi, khususnya terkait biaya bunga pinjaman proyek dan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia. "Kami fokus pada belanja yang mendukung pertumbuhan jangka panjang, memanfaatkan pendapatan untuk meningkatkan kapasitas dan talenta yang akan mempercepat ekspansi perusahaan," ujarnya.
Ekspansi Kapasitas dan Pengembangan Produk Hijau
PGE memiliki target ambisius untuk meningkatkan kapasitas pembangkit hingga 1 GW dalam 2-3 tahun ke depan. Beberapa proyek utama yang dijalankan pada 2024 meliputi pengembangan Lumut Balai Unit 2 (55 MW) dan Hululais Unit 1 & 2 (110 MW), serta proyek co-generation dengan total kapasitas 230 MW. Selain itu, PGE juga menjalin kerjasama strategis dalam pengembangan hidrogen hijau dan amonia hijau, serta manufaktur komponen PLTP dengan mitra domestik dan internasional, seperti Elnusa, Multifab, dan Sinopec Star.
Dengan peta jalan yang jelas menuju kapasitas 1,8 GW pada tahun 2033, PGE menargetkan pertumbuhan kapasitas sebesar 12% per tahun. “Kami siap memperkuat kapasitas terpasang, dan dengan berbagai inisiatif hilir seperti produk hijau, kami berupaya mempercepat transisi energi,” kata Yurizki Rio.
Kontribusi Terhadap Keberlanjutan dan Net Zero Emission