PORTALBANTEN – MI Fatussa’adah kembali menggelar acara tahunan “Samen” atau Pelepasan Kelas 6 dan Tasyakuran Kenaikan Kelas, Sabtu (21/06/2025), di halaman sekolah Jl. Sukaraja No. 40, Sukaraja, Kabupaten Bogor. Acara ini tak sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum sakral dalam menjaga tradisi, mempererat silaturahmi, sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada para siswa.

Tahun ajaran 2024–2025 ini, sebanyak 79 siswa kelas 6 berhasil lulus 100% dengan hasil yang membanggakan. Kepala MI Fatussa’adah, Ahmad Nurkholis, S.Ag., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan bangga atas prestasi siswa-siswinya. Ia menekankan bahwa perpisahan ini bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan baru yang harus dijalani dengan semangat dan keimanan yang kuat.

“Apa yang dicita-citakan semoga tercapai. Jangan lupa maknai perpisahan ini sebagai bekal melangkah ke masa depan. Pegang teguh keimanan, kejujuran, dan pantang menyerah. Meskipun seperti berlian di tempat kotor, tetaplah bernilai tinggi,” pesannya.

Acara ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, pendidikan, dan pemerintahan. Di antaranya Wieda Ayu Agustina, S.Pd (Kepala SMA Bina Ruhama), Nurhidayati, S.Pd (Kepala MTs Fatussa’adah), Asep Aos (Kepala Desa Sukaraja), H. Suhenri, M.Pd (Ketua KKMI Sukaraja), Tokoh agama dan masyarakat seperti H. Ari Sapari, KH. Djaja Ahmad Roja'i, serta Ust. H. Ruslan Abdul Gani

Kepala Desa Sukaraja, Asep Aos, memberikan apresiasi tinggi terhadap acara ini. Ia menegaskan pentingnya peran guru sebagai matahari yang menyinari tanpa meminta balasan.

“Pelepasan ini bukan akhir, tapi awal langkah baru. MI Fatussa’adah sudah membuktikan peran pentingnya dalam mencetak generasi muda mumpuni. Para alumni jangan lupa jaga nama baik almamater,” ungkapnya.

Sementara itu, H. Suhenri, M.Pd, dalam pesannya menyampaikan bahwa madrasah adalah tempat terbaik untuk pendidikan agama dan karakter. Ia mengajak para orang tua untuk terus percaya dan mendukung madrasah.

“Jangan takut menyekolahkan anak di madrasah. Ilmu agamanya luar biasa. Dan kepada para siswa, seberapa sibuk pun nanti, jangan pernah lupakan shalat,” pesannya.

Wieda Ayu Agustina, S.Pd, dengan nada haru, mengingatkan kembali bagaimana tiga tahun lalu para siswa diantar oleh orang tua dengan wajah malu-malu. Kini, mereka telah tumbuh menjadi pribadi yang siap menatap masa depan. Ia juga mengajak semua pihak untuk memaafkan kesalahan para guru, karena mendidik adalah proses yang dilakukan dengan keikhlasan hati.