PORTALBANTEN -- Di tengah hiruk-pikuk pasar Plered, Purwakarta, terdapat sebuah warisan kuliner yang telah berusia hampir satu abad. Soto Ayam Khas Plered, yang diciptakan oleh Raden Jamain pada tahun 1928, bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga sebuah cerita yang mengalir dalam setiap sendoknya.
Raden Jamain, setelah menuntut ilmu di pondok pesantren Bangkalan Madura, memutuskan untuk berjualan soto demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan penuh semangat, ia mulai menjajakan soto ayam di pasar Plered, yang kini dikenal sebagai destinasi wisata kuliner Maranggi. Dalam perjalanan hidupnya, Raden Jamain mengasuh tiga anak angkat: Iwo, Nanang Andi, dan Ijah.
Raden Jamain, yang merupakan suami dari Raden Emi, mewariskan resep soto ayamnya kepada Nanang Andi. Nanang Andi, yang dikaruniai 11 anak, melanjutkan tradisi ini setelah Raden Jamain wafat. Di antara anak-anaknya, tujuh masih hidup, termasuk Tatang, yang kini meneruskan warisan kuliner ini.
Soto ayam racikan Raden Jamain memiliki kuah bening yang khas, dipadukan dengan ketupat, daun bawang, seledri, serta bumbu rahasia seperti garam, merica, dan kecap. Setiap bahan dipilih dengan cermat untuk menciptakan cita rasa yang menggugah selera.
Sejak tahun 1966, Nanang Andi menjajakan soto ini dengan pikulan kayu, yang kemudian bertransformasi menjadi gerobak dorong. Setelah kepergian Nanang Andi pada tahun 1995, istrinya, Emi, melanjutkan usaha ini demi pendidikan anak-anaknya. Kini, Dadan dan Tete, anak-anak Emi, meneruskan tradisi ini di lokasi yang strategis di jalan Coblong dan depan puskesmas Plered.
"Yang menciptakan soto ayam sayur pertama kali yaitu buyut kami Raden Jamain. Mama Jamain jualan sejak tahun 1928 dan dibantu anak-anak angkatnya, Iwo, Nanang, dan Ijah. Setelah Raden Jamain wafat, soto ayam ini diteruskan oleh Nanang Andi hingga kini," ungkap Tatang, Senin (15/12/2025). (Agi)