PORTALBANTEN - Surya Sahetapy masih menyimpan kenangan mendalam tentang sang ayah, Ray Sahetapy, yang berpulang sepekan lalu. Setiap memori yang pernah mereka lalui bersama kini kembali terlintas di benaknya, terutama pertemuan terakhir mereka yang begitu emosional.
Dalam keterangannya kepada media, Surya mengisahkan bahwa dirinya sempat bertemu kembali dengan Ray Sahetapy pada hari ulang tahunnya yang jatuh di bulan Desember lalu. Momen itu terasa sangat istimewa karena sebelumnya ia tidak berjumpa sang ayah selama hampir tiga tahun.
"Desember lalu, tepat di hari ulang tahun saya, saya masuk ke kamar dan bertemu ayah. Rasanya begitu haru, saya menangis karena akhirnya bisa melihat beliau lagi," ujar Surya dengan mata berkaca-kaca.
Pertemuan tersebut juga menjadi momen berharga karena Surya sempat mengajarkan kembali bahasa isyarat dasar kepada ayahnya. Sebagai seorang penyandang tuli yang kini menjadi dosen di Amerika Serikat, Surya merasa penting untuk mengajak ayahnya kembali mengingat komunikasi dalam bahasa isyarat.
"Saya ajarkan lagi bahasa isyarat dasar, seperti huruf a, b, dan alfabet lainnya, agar ayah bisa kembali mengingatnya," jelas Surya.
Tak hanya Surya, Rama Sahetapy yang merupakan anak kedua Ray juga turut mengenang sosok sang ayah. Ia menggambarkan Ray sebagai pribadi yang disiplin dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Bahkan di tengah kondisi kesehatan yang menurun, Ray tetap memilih untuk terus bekerja.
"Ayah sangat keras kepala, meski sedang sakit tetap memaksakan diri untuk bekerja karena beliau adalah pekerja keras," ungkap Rama.
Rama juga menceritakan betapa Ray memiliki kedekatan yang luar biasa dengan para cucunya. Ia bahkan masih mengingat pesan terakhir sang ayah yang menekankan pentingnya kasih sayang dan totalitas dalam membesarkan anak-anak.
"Almarhum sangat sayang dengan cucu-cucunya. Pesan terakhir yang saya pegang adalah: 'berikan segala hal terbaik untuk anak-anakmu, jadilah orangtua yang hebat untuk mereka'," kenangnya.