PORTALBANTEN — Isu soal kekerasan terhadap pemain sirkus kembali mencuat ke permukaan. Cerita pilu para eks pemain Oriental Circus Indonesia (OCI) soal kekerasan, eksploitasi tenaga kerja, hingga perpisahan keluarga ramai diperbincangkan di media sosial dan audiensi publik. Di tengah riuhnya kabar tersebut, nama Taman Safari Indonesia ikut disebut-sebut.
Taman Safari Indonesia Group, dalam pernyataan resmi, menyampaikan simpati atas kisah para korban yang akhirnya berani bersuara. Mereka memahami trauma yang dialami para eks pemain sirkus itu, namun menegaskan bahwa isu tersebut merupakan persoalan personal yang tak berkaitan dengan institusi mereka.
“Kami prihatin mendengar kesaksian para korban yang beredar. Meski demikian, kami perlu meluruskan bahwa Taman Safari Indonesia tidak pernah memiliki hubungan hukum, bisnis, atau afiliasi dengan pihak-pihak yang diduga terlibat dalam tindakan kekerasan tersebut,” ujar Finky Santika Nh, Head of Media and Digital Taman Safari Indonesia Group (16/4).
Kisah kekerasan di lingkungan sirkus bukan kabar baru. Namun, audiensi publik beberapa waktu lalu dengan Wakil Menteri Hukum dan HAM kembali mengangkat luka lama, hingga menyeret nama lembaga konservasi satwa terbesar di Indonesia itu. Dalam kesempatan tersebut, beberapa individu menyebut area hiburan di lingkungan Taman Safari sebagai salah satu tempat beroperasinya Oriental Circus Indonesia atau OCI.
Namun, Taman Safari Indonesia menegaskan bahwa sejak awal mereka tidak mengelola atau mengoperasikan kegiatan sirkus manusia. Fokus utama institusi selama lebih dari 40 tahun adalah pada konservasi satwa, edukasi lingkungan, dan pengembangan pariwisata alam.
“Orientasi kami adalah pelestarian satwa dan wisata edukasi. Kami tidak pernah membenarkan bentuk kekerasan apa pun, baik terhadap manusia maupun satwa,” imbuh Finky.
Taman Safari Indonesia juga menyerukan agar penyelesaian persoalan ini dilakukan secara tuntas melalui jalur hukum, tanpa melibatkan institusi yang tidak memiliki relevansi. Pihaknya berharap semua pihak dapat memisahkan antara persoalan personal, bisnis individu, dan institusi yang memiliki peran penting dalam konservasi satwa di Indonesia.
“Kami menghargai keberanian para korban berbicara. Namun penting bagi publik untuk memahami konteks serta memastikan informasi yang beredar telah terverifikasi,”tegasnya.
Di akhir klarifikasinya, Taman Safari Indonesia mengajak masyarakat untuk bijak menyikapi isu-isu yang berkembang, khususnya di media sosial. Mereka mengingatkan pentingnya memilah informasi, memastikan fakta sebelum menyimpulkan, dan tidak mudah menyeret pihak lain dalam isu yang belum tentu memiliki keterkaitan.