PORTAL BANTEN - Aksi seorang kepala desa (Kades) di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, bernama Casmari, menjadi viral di media sosial setelah video dirinya 'nyawer' di sebuah klub malam beredar luas. Perbuatannya ini pun menuai beragam reaksi dari masyarakat.
"Secara tak sadar, dan kalau di diskotek kan suasananya seperti itu, ramai, bising, puyeng. Jadi ya seperti itu kejadiannya," ujar Casmari.
Casmari membela diri dengan menyatakan bahwa uang yang digunakan untuk 'nyawer' tersebut merupakan uang pribadinya, bukan dana desa. Ia juga menjelaskan sumber kekayaannya.
"Itu uang pribadi saya, bukan dana desa. Saya punya usaha, rumah saya banyak, mobil tiga, dan masyarakat juga tahu usaha saya. Jadi jangan disalahartikan," tambahnya.
Lebih lanjut, Casmari mengungkapkan bahwa aksi 'nyawer' di klub malam bukan kali pertama dilakukannya. Ia mengaku kerap melakukan hal serupa sebelum menjabat sebagai Kades.
"Sebelum jadi kuwu saya juga sering sawer, bahkan pernah habis Rp 15 juta. Yang kemarin itu paling cuma Rp 1 sampai Rp 3 juta," ujarnya.
Untuk membuktikan klaimnya, Casmari menjelaskan bagaimana ia menggunakan gaji sebagai kepala desa sejak tahun 2024. Ia menegaskan bahwa penghasilannya sebagai kepala desa tidak pernah digunakan untuk kepentingan pribadi.
"Di tahun pertama saya jabat, gaji saya berikan untuk fakir miskin dan anak yatim di Desa Karangsari. Di tahun kedua, gaji itu saya alokasikan untuk program Rutilahu dan perbaikan jalan-jalan yang belum tersentuh dana desa," jelasnya.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan mengenai etika dan transparansi seorang pemimpin desa. Aksi Casmari yang viral ini memicu perdebatan publik mengenai penggunaan uang pribadi pejabat publik untuk hiburan, khususnya dalam konteks budaya lokal dan citra seorang kepala desa.