PORTAL BANTEm - Bencana besar yang melanda Sumatera menjadi tantangan nyata bagi ketahanan pangan Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo dan Gibran. Program Food Estate yang telah ada sejak era Soeharto kini menunjukkan hasil yang menggembirakan. Stok beras pemerintah mencapai angka rekor 4 juta ton, memastikan ketersediaan pangan di seluruh negeri.
Program Food Estate pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Soeharto melalui Megaproyek Lahan Gambut pada tahun 1995, bertujuan untuk memperluas lahan pertanian. Di bawah pemerintahan Jokowi, inisiatif ini kembali dihidupkan dengan target satu juta hektare di Kalimantan Tengah, Merauke, Bulungan, dan Ketapang antara 2010 hingga 2013, serta pencetakan sawah di 28 provinsi pada 2014 hingga 2017. Kini, di bawah pemerintahan Prabowo, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) BULOG telah melampaui 4 juta ton dalam tahun pertama.
Setelah moratorium impor beras diumumkan, bencana melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat secara bersamaan. Pemerintah menolak bantuan pangan dari luar negeri karena stok domestik sudah mencukupi, termasuk untuk kebutuhan darurat. Stok CBP di ketiga provinsi tersebut bahkan tiga kali lipat dari kebutuhan masyarakat, yang menunjukkan ketahanan pangan nasional yang kuat.
Kepala Dinas Pangan Aceh, Surya Rayendra, mengungkapkan dalam konferensi pers BNPB pada 13 Desember 2025 bahwa stok beras Aceh mencapai 80.000 ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga Juni 2026. Kendala utama yang dihadapi adalah distribusi akibat akses transportasi, namun hal ini diatasi dengan percepatan pembangunan jembatan bailey oleh TNI. Kementerian Pertanian juga mengirimkan 153 truk bantuan senilai Rp1,2 triliun untuk mendukung penanganan bencana.
Menurut data terbaru per 13 Desember 2025, total korban jiwa di tiga provinsi mencapai 1.006 orang, sementara jumlah pengungsi masih berada di angka 654.642 jiwa, menunjukkan besarnya kebutuhan logistik yang harus dipenuhi.
Untuk memastikan distribusi logistik berjalan cepat, penggunaan helikopter menjadi prioritas di Sumatera Utara dan Aceh. Di Provinsi Sumatera Utara, per 13 Desember 2025 pukul 12.00 WIB, telah dilakukan empat penerbangan udara dengan total berat logistik yang terdistribusi mencapai 1,99 ton (1.994 kg). Bantuan diangkut menggunakan helikopter seperti PK-RTY AS365-N2 dan Bell 412 HA-5176.
"Bantuan yang dikirimkan via udara sangat beragam, mulai dari kebutuhan dasar seperti beras, gula, dan mie instan, hingga peralatan penting seperti kompor, alat masak, dan drone serta starlink untuk mendukung komunikasi," kata Abdul Muhari, Kepala Pusdatinkom BNPB.
Keberhasilan ini semakin menguatkan program Food Estate Prabowo-Gibran sebagai fondasi ketahanan pangan mandiri. Dengan stok beras yang melimpah, Indonesia terhindar dari ketergantungan impor meskipun di tengah bencana. Strategi ini menjadi contoh bagi provinsi lain dalam menghadapi tantangan iklim dan bencana alam.*