PORTALBANTEN - Selepas mundur dari grup musik Dewa 19 pada 1999, Ari Lasso memulai babak baru sebagai penyanyi solo. Langkah ini ditandai dengan peluncuran album pertamanya yang bertajuk Sendiri Dulu pada tahun 2001, yang sukses mencetak lagu-lagu populer seperti “Misteri Illahi”, “Nelangsa”, dan “Penjaga Hati”.
Kesuksesan album debut tersebut mengukuhkan nama Ari Lasso sebagai solois papan atas di Indonesia. Namun, tak semua lagu dalam album tersebut merupakan hasil ciptaannya sendiri. Ari Lasso banyak bekerja sama dengan para musisi ternama, termasuk Piyu dari grup Padi, Bimo Romeo, Bebi Romeo, hingga Bongky Marcel.
Piyu, salah satu pencipta lagu yang pernah menyumbang karya untuk Ari Lasso, kini mengungkapkan bahwa dirinya tidak lagi mengizinkan lagu-lagu ciptaannya dinyanyikan oleh Ari Lasso. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Piyu kepada Ari.
Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Ahmad Dhani Dalam Berita, beberapa waktu lalu. Piyu menjelaskan bahwa alasan di balik pelarangan ini berkaitan dengan ketimpangan royalti. Ia merasa bahwa meski lagunya menjadi hit, penghasilan dari royalti yang diterima sangat kecil.
“Dari awal sampai sekarang, hasil royalti lagu-lagu saya hanya menunjukkan angka yang kecil, sekitar Rp 130.000. Termasuk dari performing rights melalui WAMI, sangat tidak signifikan,” ungkap Piyu, yang juga dikenal sebagai gitaris Padi Reborn.
Beberapa lagu ciptaan Piyu yang dipopulerkan Ari Lasso adalah “Penjaga Hati” dari album Sendiri Dulu (2001), dan “Jalanku Tak Panjang” dari album Keseimbangan (2003). Kedua lagu ini sempat menjadi hits di masanya dan turut memperkuat posisi Ari Lasso sebagai solois.
Masalah royalti memang telah lama menjadi sorotan di industri musik Indonesia. Banyak pencipta lagu dan komposer merasa sistem pembagian royalti saat ini belum berpihak pada mereka. Meski sudah ada UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan PP No. 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti, implementasinya dinilai masih belum optimal.
Situasi ini mendorong beberapa pencipta lagu untuk menarik izin penggunaan karyanya, karena merasa tidak memperoleh imbal balik ekonomi yang sepadan dibanding penyanyi yang membawakan lagu mereka di berbagai panggung.*