PORTALBANTEN — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengambil pendekatan berbeda dalam mendorong produk dalam negeri lewat peluncuran Gerakan Kamis Pakai Lokal (GASPOL). Tidak sekadar imbauan konsumtif, GASPOL dirancang sebagai strategi soft power baru: mengubah kebiasaan harian aparatur negara menjadi etalase gaya hidup berbasis produk lokal.

Dipimpin langsung oleh Menteri Perdagangan Budi Santoso (Mendag Busan), GASPOL mewajibkan seluruh pegawai Kemendag mengenakan produk buatan Indonesia—mulai dari pakaian, sepatu, hingga aksesori—setiap hari Kamis. “Kalau ingin masyarakat bangga pakai produk lokal, maka pemerintah harus duluan jadi role model,” ujar Mendag Busan.

Lebih dari sekadar kampanye nasionalisme belaka, GASPOL juga dimaksudkan untuk menciptakan permintaan berkelanjutan di pasar domestik, khususnya untuk produk-produk UMKM dan industri kreatif. Upaya ini menjadi bentuk konkret dari strategi penguatan pasar dalam negeri yang selama ini kerap didominasi oleh barang impor.

Pegawai Jadi Influencer Produk Lokal

Dalam peluncuran GASPOL yang juga dimeriahkan oleh pameran 18 jenama lokal ternama seperti Ortuseight, Make Over, Executive, dan Sovlo, pegawai Kemendag tampak mengenakan produk lokal dengan percaya diri. “Setiap Kamis, pegawai kita akan jadi etalase hidup dari jenama Indonesia,” kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Iqbal Shoffan Shofwan.

GASPOL tidak hanya menargetkan perubahan perilaku internal birokrasi, tetapi juga sebagai bentuk kampanye gaya hidup yang bisa direplikasi oleh kementerian atau lembaga lain, swasta, bahkan komunitas masyarakat luas. Dengan menjadikan pegawai pemerintah sebagai influencer kultural, Kemendag menyasar perubahan persepsi jangka panjang atas produk lokal: bukan sekadar murah, tapi layak dibanggakan.

Dari Birokrasi ke Budaya Pop

Menurut pengamat pemasaran budaya, inisiatif GASPOL membuka ruang baru dalam strategi promosi produk lokal: menggerakkan perubahan dari dalam birokrasi menjadi arus utama. Ketika produk-produk lokal dikenakan secara konsisten di ruang-ruang publik formal, kesan inferior terhadap produk dalam negeri perlahan terkikis.

“Saat kementerian menjadikan produk lokal sebagai bagian dari dress code, itu bukan cuma soal ekonomi, tapi identitas budaya,” ujar Diah Santoso, dosen Komunikasi Budaya UI. Ia menyebut GASPOL berpotensi menjembatani kesenjangan antara UMKM dan pasar konsumen kelas menengah.