JAKARTA — PT PLN (Persero) terus mempercepat pemulihan sistem kelistrikan di sejumlah wilayah Sumatera pasca-insiden mati lampu massal (blackout) yang terjadi pada 22–23 Mei 2026. Gangguan berskala besar pada sistem interkoneksi ini diduga dipicu oleh masalah pada jaringan transmisi utama akibat faktor cuaca.

Berdasarkan informasi resmi, gangguan awal diidentifikasi terjadi pada jalur transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Jambi yang terdampak cuaca ekstrem. Kondisi tersebut memicu penurunan kestabilan sistem, yang kemudian berdampak pada jaringan kelistrikan di berbagai wilayah Sumatera. Guna mengatasi situasi tersebut, PLN langsung mengerahkan personel teknis untuk melakukan isolasi gangguan, normalisasi transmisi, hingga pemulihan pembangkit listrik secara bertahap.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, menyatakan bahwa pihaknya bersama Kementerian Sekretariat Negara dan PLN terus berkoordinasi intensif dalam penanganan gangguan ini.

"Kementerian ESDM sebagai regulator dan pengawas subsektor ketenagalistrikan memberikan perhatian serius terhadap kejadian ini. Kami memahami gangguan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat serta berdampak pada aktivitas ekonomi dan sosial," ujar Yuliot di Jakarta, Sabtu (24/5/2026).

Yuliot menambahkan bahwa proses pemulihan secara bertahap sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya gangguan susulan yang dapat memperpanjang durasi pemadaman.

Langkah penanganan cepat oleh PLN ini turut mendapat perhatian dari pengamat energi dan kebijakan publik, Iskandar. Menurutnya, kecepatan respons teknis sangat menentukan dalam mengendalikan risiko pada sistem interkoneksi sebesar Sumatera.

"Ketika terjadi gangguan pada backbone transmisi, pemulihannya tidak sederhana. Respons cepat sangat membantu menstabilkan kembali sistem. Blackout pada sistem besar biasanya bukan disebabkan oleh kegagalan tunggal, melainkan rangkaian gangguan yang saling memengaruhi, yang sering kali dipicu oleh faktor eksternal seperti cuaca ekstrem," jelas Iskandar.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi dan memastikan seluruh jajaran fokus pada percepatan pemulihan di lapangan.

Pengamat komunikasi krisis infrastruktur, Suswinda, menilai permohonan maaf tersebut merupakan bentuk akuntabilitas korporasi yang penting untuk menjaga kepercayaan publik. Namun, ia menekankan bahwa tindakan nyata di lapangan tetap menjadi indikator utama.