PORTAL BANTEN - Pemerintah Indonesia melalui Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah inovatif dengan menjadikan Program Nasional Dukungan Gizi untuk Pendidikan Dasar India, yang dikenal sebagai Pradhan Mantri Poshan Shakti Nirman (PM Poshan), sebagai acuan dalam pengembangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini tidak lepas dari berbagai reaksi, termasuk kritik yang kini dijawab oleh pemerintah untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap inisiatif penting ini.

Program PM Poshan di India telah beroperasi sejak 15 Agustus 1995 dengan tujuan utama meningkatkan gizi anak-anak di sekolah dasar, serta mengurangi angka malnutrisi dan ketidakhadiran siswa. Hasilnya, India berhasil memperluas akses gizi bagi jutaan anak, meskipun masih menghadapi tantangan dalam peringkat Global Hunger Index (GHI), di mana India berada di posisi 102 dari 123 negara, sementara Indonesia di peringkat 70.

Kepala BGN Dadan Hindrayana menegaskan bahwa perbedaan peringkat tersebut tidak menghalangi Indonesia untuk belajar dari sistem manajemen dan teknologi yang telah terbukti efektif di India. "Kita tidak meniru secara mentah, tetapi mengambil praktik terbaik dari India untuk memperkuat tata kelola program MBG di Indonesia," ujar Dadan Hindrayana.

Dia juga menambahkan, "Dan saya kira nanti bimbingan teknis dari India akan membantu untuk meningkatkan kualitas pelayanan MBG di Indonesia." Melalui kolaborasi ini, BGN berupaya mendapatkan bimbingan teknis dan penguatan kelembagaan, termasuk adopsi sistem digital Poshan Tracker, yang digunakan India untuk memantau distribusi makanan bergizi secara transparan dan real-time.

Terkait kritik dari Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina yang meminta agar BGN meninjau ulang penggunaan India sebagai model, hasil riset menunjukkan bahwa cakupan MBG Indonesia jauh lebih luas dibandingkan NP-NSPE India. Program MBG tidak hanya menyasar pelajar SD dan SMP, tetapi juga ibu hamil, balita, sekolah swasta, pesantren, hingga sekolah berasrama.

Pemerintah juga menilai isu kelaparan di India justru menjadi pelajaran penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui program food estate dan swasembada pangan. "Program makan siang di sekolah bukanlah hal yang baru. Berdasarkan data yang dikeluarkan Global Child Nutrition Foundation (GCNF) pada 2024, terdapat 146 negara yang telah menjalankan program makan siang di sekolah dengan berbagai skala cakupan," kata TII dalam laporannya.

Dengan belajar dari pengalaman India, Indonesia berharap dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi distribusi makanan bergizi, sekaligus menekan biaya pengadaan bahan pangan. Ketua Umum Indonesia–India Youth Forum (IIYF), Ravindra, menyatakan dukungannya terhadap langkah kolaboratif antara Indonesia dan India dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Pangan adalah bahasa universal kemanusiaan. Ketika dua negara besar seperti Indonesia dan India berkolaborasi dalam memastikan anak-anaknya tumbuh sehat dan berdaya, sesungguhnya kita sedang menulis babak baru solidaritas global dari Selatan dunia," ujar Ravindra.

Hingga kini, program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau lebih dari 37 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia melalui kerja sama lintas sektor. Kerja sama dengan India diharapkan menjadi langkah konkret untuk memperkuat sistem gizi nasional, mempercepat pengentasan malnutrisi, dan membangun generasi muda Indonesia yang sehat dan produktif.