PORTAL BANTEN - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini diusung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045, memiliki sejarah yang mendalam yang berakar pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada awal 1990-an, pemerintah Orde Baru telah meluncurkan inisiatif serupa yang dikenal dengan nama Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS).

Inisiatif ini diperkuat melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. 1 Tahun 1997, yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan gizi siswa sekolah dasar, terutama di daerah-daerah yang tertinggal dan rentan terhadap masalah gizi buruk. Program ini dilaksanakan tiga kali seminggu dan melibatkan kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari kepala sekolah, guru, kader PKK, hingga bidan desa.

Menurut pakar kebijakan publik, Hasan Nasbi, makanan yang disediakan pada masa itu meskipun sederhana, tetap memenuhi standar gizi yang diperlukan. Pada periode 1995–1996, sekitar 6 juta anak tercatat sebagai penerima manfaat dari PMT-AS. Namun, program ini terpaksa dihentikan pada tahun 1998 akibat krisis ekonomi yang melanda negara.

Walaupun demikian, semangat untuk memberikan gizi yang baik tidak sepenuhnya pudar. Di pemerintahan selanjutnya, PMT tetap dilanjutkan dengan fokus yang lebih besar pada balita dan ibu hamil. Berbeda dengan PMT-AS, program MBG saat ini memiliki cakupan yang lebih luas, mencakup siswa sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui, sehingga memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap ketahanan gizi keluarga di Indonesia.

Program PMT-AS di era Soeharto menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah untuk mengatasi masalah kekurangan gizi, menurunkan angka putus sekolah, dan meningkatkan minat belajar anak-anak di daerah miskin. Nilai-nilai ini sejalan dengan visi pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Saat ini, MBG hadir dengan skala yang lebih besar dan didukung oleh teknologi pelayanan yang lebih modern. Namun, esensi dari program ini tetap sama: memberikan akses terhadap makanan bergizi demi masa depan generasi Indonesia. MBG dapat dianggap sebagai kelanjutan dari PMT-AS yang telah diwariskan sejak masa Orde Baru.*