PORTALBANTEN – Dunia pendidikan kembali diguncang oleh praktik curang yaitu menggunakan joki yang mencoreng semangat kejujuran dalam proses seleksi perguruan tinggi. Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) membongkar kasus perjokian dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di salah satu kampus ternama di Bandung. Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa integritas pendidikan masih menghadapi tantangan serius.

Peristiwa ini bermula dari kecurigaan panitia terhadap salah satu peserta ujian berinisial F.R.B. Investigasi cepat membuktikan bahwa F.R.B bukanlah peserta sah, melainkan seorang joki UTBK yang dibayar untuk menggantikan peserta sebenarnya. Kejanggalan identitas dan perbedaan wajah dari data yang tercatat dalam sistem Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) membuka kedok praktik pemalsuan yang terorganisir.

Modus para joki, kejahatan ini tak hanya mencakup pemalsuan identitas, tetapi juga keterlibatan pihak lain dalam pembuatan dokumen palsu, termasuk ijazah dan kartu ujian. Polisi menetapkan tiga tersangka, yakni A.S sebagai aktor intelektual, M.T.S sebagai perantara, dan F.R.B sebagai joki. Ketiganya kini ditahan dan terancam hukuman maksimal enam tahun penjara.

Lebih dari sekadar pelanggaran hukum, kasus joki UTBK ini memperlihatkan bagaimana sistem seleksi pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi instrumen mobilitas sosial, malah dimanipulasi oleh mereka yang mengabaikan nilai kejujuran. Praktik semacam ini tak hanya mencederai peserta yang berjuang secara sah, tetapi juga merusak kepercayaan terhadap sistem seleksi nasional.

“Praktik perjokian ini sangat merugikan dan mencederai integritas pendidikan nasional. Ini bukan sekadar kasus hukum, tapi ancaman terhadap nilai dasar pendidikan,” ujar Kombes Pol Hendra Rochmawan, Kabid Humas Polda Jabar, Jumat (9/5/2025).

Polisi menyita sejumlah barang bukti seperti dokumen palsu, perangkat elektronik, serta kartu ujian ilegal yang menjadi alat pelanggaran. Penyidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap kemungkinan jaringan yang lebih luas.

Kasus joki UTBK ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak, termasuk penyelenggara pendidikan dan orang tua siswa, untuk memperketat pengawasan serta membangun kembali budaya kejujuran sejak dini. Pendidikan bukan hanya soal hasil, tapi juga proses yang berintegritas.*