PORTAL BANTEN - Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, yang dikenal dengan nama Whoosh, diprediksi akan menjadi pemicu lahirnya berbagai kegiatan ekonomi baru. Dengan perluasan jalur kereta cepat, diharapkan manfaat ekonomi dapat meluas dari pusat-pusat pertumbuhan yang baru muncul.

"Sehingga dengan adanya kereta Whoosh itu, maka kemudian banyak kegiatan-kegiatan ekonomi baru yang bisa terjadi," kata Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah, beberapa waktu lalu.

Piter menekankan bahwa proyek ini merupakan langkah awal yang krusial dalam pengembangan transportasi berbasis rel di Pulau Jawa. "Dan diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian regional," tambahnya.

Menurut Piter, kereta cepat Whoosh memiliki potensi besar sebagai katalisator ekonomi yang dapat mendukung pertumbuhan aktivitas dan nilai tambah baru. Layanan kereta cepat yang menghubungkan Jakarta dan Bandung telah menunjukkan dampak positif, terlihat dari peningkatan mobilitas masyarakat di antara kedua kota tersebut.

"Mobilitas masyarakat yang jadi penggerak perekonomian itu menunjukkan tren peningkatan secara bertahap," ungkap Piter. Data menunjukkan bahwa jumlah penumpang yang menggunakan Whoosh terus meningkat dari waktu ke waktu.

Peningkatan jumlah penumpang ini mencerminkan bahwa masyarakat mulai merasakan manfaat dari efisiensi waktu dan kenyamanan dalam perjalanan. Hal ini menjadi faktor penting yang mendorong pertumbuhan sektor transportasi modern.

Menurut data dari operator Whoosh, PT. Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), terdapat peningkatan signifikan jumlah penumpang kereta cepat sepanjang semester pertama tahun 2025. Hingga akhir Juni 2025, total sebanyak 2.936.599 penumpang telah dilayani, meningkat sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 2.668.894 penumpang.

Whoosh melayani 62 perjalanan setiap harinya dengan frekuensi keberangkatan setiap 30 menit. Untuk mengoptimalkan potensi sebagai katalisator ekonomi, Piter menyoroti pentingnya pengembangan ekosistem transportasi yang terintegrasi antara kereta cepat dengan moda transportasi lokal serta pusat-pusat ekonomi daerah. "Mengintegrasikan semua ekosistem yang bisa dimanfaatkan akan memaksimalkan keberadaan kereta cepat," jelasnya.*