PORTALBANTEN - Di sebuah jalan raya sunyi di Perak, Malaysia, sebuah tragedi bisu terjadi. Bukan soal siapa yang menang atau kalah, bukan tentang manusia, tapi tentang kehilangan yang tak bisa diucapkan dengan bahasa: seekor anak gajah mati tertabrak truk, dan sang induk—dalam diamnya—menolak meninggalkannya.

Video menyayat hati ini pertama kali dibagikan akun TikTok @Chimenx dan langsung mengguncang perasaan ribuan netizen, termasuk dari Indonesia. Di tengah lalu lintas malam, seekor gajah dewasa berdiri terpaku, menatap jasad anaknya yang terkapar di bawah truk pengangkut ayam. Ia tidak meraung, tidak mengamuk. Ia hanya diam. Tapi dari diam itu, jutaan perasaan tumpah—kesedihan, penyesalan, dan kehilangan yang dalam.

Netizen pun larut dalam duka. Komentar demi komentar membanjiri video itu, tak sedikit yang menumpahkan air mata. Ada yang teringat anaknya sendiri. Ada yang merenungkan hubungan dengan ibunya. Bahkan ada yang menyindir tajam sikap manusia yang tak jarang lebih kejam dari hewan: “Gajah aja tahu cara menjaga anaknya, sementara manusia malah menelantarkan.”

Di balik kisah ini, ada tanya yang patut direnungkan: sampai kapan kita menganggap jalan raya lebih penting dari jalur hidup satwa liar? Berapa lagi korban bisu dari pembangunan yang tak peduli arah?

Induk gajah itu akhirnya dievakuasi paksa dengan penenang, dipindahkan ke hutan agar tak terus menjaga tubuh anaknya yang dingin. Tapi apa yang hilang dari dirinya, tak akan pernah kembali.

Kejadian ini bukan sekadar tentang satwa liar. Ini tentang kita. Tentang bagaimana manusia sering lupa, bahwa alam juga punya air mata. Dan kali ini, seekor induk gajah lah yang mengajarkan kita arti kehilangan yang sesungguhnya.*