Di balik keramaian dunia yang gemerlap dan hingar-bingar pencapaian hidup, sesekali hati kita dihentak oleh pertanyaan yang mengusik:
"Mengapa kita tidak takut dosa, padahal kita tahu akibatnya begitu berat?"
Saya, Rosis Aditya atau yang kerap disapa Kang Ocis tidak menuliskan ini untuk menggurui. Saya menulis ini sebagai bentuk refleksi dan perenungan diri, sekaligus mengajak siapa pun yang membaca untuk sejenak merenung. Karena jujur, saya pun pernah dan masih sering berada di posisi itu: tahu bahwa sesuatu adalah dosa, tapi tetap saja melakukannya. Maka, tulisan ini bukan penghakiman, melainkan ajakan untuk kembali sadar.
Kita Hidup dalam Era Pembiasaan
Salah satu alasan mengapa dosa tak lagi menakutkan adalah karena kita hidup dalam era pembiasaan. Apa yang dulunya dianggap aib, kini dianggap biasa. Apa yang dulu ditutupi karena malu kepada Tuhan, sekarang diumbar demi validasi sosial.
Perzinaan, kebohongan, fitnah, korupsi kecil-kecilan, gibah—semuanya perlahan menjadi bagian dari “keseharian”. Bahkan, sebagian orang berani mengemas dosa dengan hiburan. Ini yang saya sebut sebagai normalisasi dosa, yang pelan-pelan mematikan rasa takut dalam diri manusia.
“Jika hati tidak lagi merasa bersalah ketika berbuat dosa, maka itu tanda hati sedang sakit, atau bahkan sekarat,” tulis saya dalam salah satu catatan harian saya.
Takut Manusia, Tapi Tidak Takut Tuhan
Ironisnya, banyak dari kita yang lebih takut diketahui manusia, dibanding diketahui Tuhan. Kita lebih takut ketahuan melanggar aturan kantor, daripada melanggar aturan Allah. Kita lebih takut direkam kamera CCTV, daripada dihadiri dua malaikat pencatat amal.
Mengapa bisa begitu? Karena yang terlihat secara fisik lebih mudah menimbulkan efek jera. Kita lupa bahwa Allah Maha Melihat, meski tak terlihat.
Berita Populer
News Feed
Install App
portalbanten.net
Untuk pengalaman membaca berita yang lebih cepat dan nyaman, Install Aplikasi kami di Android Anda