PORTAL BANTEN - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kita tak bisa menggelitik diri sendiri? Pertanyaan sederhana ini, yang konon juga pernah diajukan filsuf Socrates 2.000 tahun lalu, ternyata menyimpan misteri kompleks yang hingga kini masih dikaji para ilmuwan.

"Jika kita tahu cara kerja gelitik di tingkat otak, itu dapat memberikan banyak wawasan tentang topik lain dalam ilmu saraf," jelas Konstantina Kilteni, ahli saraf dari Radboud Universiteit, Belanda.

Kilteni, yang juga menjabat sebagai Assistant Professor di Departemen Ilmu Saraf, Karolinska Institutet (KI), Swedia, mengatakan bahwa kurangnya definisi ilmiah yang jelas tentang 'gelitik' menjadi salah satu kendala utama dalam penelitian ini. Perbedaan antara gelitik keras di ketiak dan gelitik lembut di punggung, misalnya, menunjukkan kompleksitas fenomena ini.

"Tampaknya, otak kita membedakan diri kita dari orang lain, dan karena kita tahu kapan dan di mana kita akan menggelitik diri sendiri, otak dapat mematikan refleks menggelitik terlebih dahulu. Namun, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di otak kita saat kita digelitik," tutur Kilteni.

Penelitian menunjukkan orang dengan gangguan spektrum autisme cenderung lebih sensitif terhadap sentuhan dan menganggapnya lebih geli. Hal ini membuka peluang untuk memahami perbedaan neurologis antara otak orang dengan dan tanpa autisme.

"Namun, kita juga tahu bahwa kera seperti bonobo dan gorila merespons sentuhan geli, dan bahkan tikus pun pernah ditemukan demikian. Dari perspektif evolusi, apa tujuan dari gelitik? Apa yang kita dapatkan darinya?" tanya Kilteni.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Kilteni bahkan mendirikan Somatosensation & Gargalesis Lab, laboratorium khusus yang dilengkapi dengan peralatan canggih untuk melakukan eksperimen gelitik terkontrol. Dengan alat-alat ini, setiap eksperimen dapat dilakukan dengan standar yang sama, memungkinkan para ilmuwan untuk mencatat secara detail aktivitas otak dan reaksi fisik lainnya seperti detak jantung dan pernapasan.

"Dengan menggabungkan metode gelitik ini ke dalam eksperimen yang tepat, kita dapat menganggap serius penelitian gelitik. Kita tidak hanya akan dapat benar-benar memahami gelitik, tetapi juga otak kita," pungkas Kilteni, menggambarkan harapannya akan terungkapnya misteri di balik sensasi gelitik.*