PORTALBANTEN – Ribuan umat Katolik dari seluruh penjuru dunia memenuhi Lapangan Santo Petrus pada Minggu pagi waktu Roma. Namun Misa kali ini bukan sekadar seremoni keagamaan, ia menjadi momen simbolik transisi spiritual di tengah dunia yang tengah bergolak.
Pelantikan Paus Leo XIV, pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang baru, menandai peristiwa bersejarah: untuk pertama kalinya dalam dua milenium, takhta suci dipegang oleh seorang rohaniwan asal Amerika Serikat, Kardinal Robert Francis Prevost.
Terpilih pada 8 Mei 2025 dalam konklaf yang berlangsung cepat dan tertutup, Paus Leo XIV resmi memulai masa jabatannya dalam misa pelantikan yang penuh khidmat namun sarat makna geopolitik. Prosesi berlangsung di tengah dunia yang sedang menghadapi perang, ketidakpastian ekonomi, serta keresahan spiritual akibat pergeseran nilai dan krisis kepercayaan.
Di antara hadirin, tampak para pemimpin dunia yang duduk dalam barisan simbolik: Wakil Presiden AS JD Vance dan Menlu Marco Rubio berdampingan dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Mereka mewakili negara-negara yang kini berperan besar dalam konflik dan diplomasi global.
Dari Eropa, tampak pula Ratu Maxima dari Belanda dan Pangeran Edward mewakili Kerajaan Inggris, serta Perdana Menteri Dick Schoof. Sosok-sosok ini, bersama pemimpin gereja ortodoks seperti Metropolitan Nestor, mencerminkan betapa pelantikan Paus tidak hanya urusan Vatikan, tapi panggung moral dunia.
Dalam homilinya, Paus Leo XIV langsung mengangkat isu krusial: perdamaian di Ukraina. Ia menyerukan dialog sejati dan penghentian penderitaan sipil, menandai arah awal kepemimpinannya yang diproyeksikan akan fokus pada rekonsiliasi lintas negara dan agama.
“Kami tidak bisa menutup mata terhadap jeritan manusia yang terjebak di tengah kekerasan,” ujar Paus, disambut diam khusyuk dan tepuk tangan lembut dari ribuan peziarah.
Pemilihan nama “Leo XIV” merujuk pada tradisi para paus terdahulu yang dikenal berani namun penuh belas kasih. Bagi banyak umat, nama itu menjadi harapan atas pemimpin yang bisa menjembatani masa lalu Gereja dengan realitas masa kini yang menuntut adaptasi tanpa kehilangan prinsip.
Di tengah sorotan atas krisis internal dan tantangan modernisasi Gereja Katolik, pelantikan ini menjadi titik balik. Apalagi dengan fakta bahwa Amerika Latin dan Afrika kini menyumbang mayoritas populasi Katolik, kehadiran Paus asal Amerika menjadi simbol pergeseran poros kekuatan dalam tubuh gereja.