PORTALBANTEN — Dalam suasana yang penuh makna di Museum Nasional Indonesia, seni dan diplomasi berpadu menjadi satu. Di tengah jamuan kebudayaan yang digelar Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai pembuka Konferensi ke-19 Parlemen Negara-Negara Islam (PUIC), dua sosok tampil membawakan pesan yang tak hanya menggugah, tapi juga menyatukan: penyair senior Taufiq Ismail dan anggota DPRD Jawa Barat, Ricky Kurniawan.
Taufiq Ismail membacakan puisi bertajuk "Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu?" sebuah seruan kemanusiaan yang mengingatkan dunia bahwa tragedi Palestina bukan hanya persoalan politik, tetapi luka sejarah yang masih berdarah. Puisinya dibacakan dalam keheningan penuh hormat oleh para delegasi negara-negara OKI.
Yang membuat momen ini lebih mendalam, Ricky Kurniawan, politisi muda asal Jawa Barat, menyampaikan puisi yang sama dalam bahasa Arab. Kehadirannya di panggung bukan sekadar sebagai legislator, melainkan sebagai penyampai rasa yang menembus batas negara dan bahasa.
"Puisi dan bahasa seni melampaui diplomasi resmi. Di sinilah kita menemukan kekuatan yang menyentuh langsung nurani manusia," kata Ricky usai tampil.
Menteri Fadli Zon sendiri menegaskan bahwa soft power melalui budaya menjadi elemen penting dalam memperjuangkan nilai keadilan global. Ia menyebut bahwa ekspresi seni mampu menyuarakan solidaritas lebih tajam daripada retorika diplomatik.
Konferensi PUIC yang akan berlangsung pada 12–15 Mei ini bukan hanya forum antarparlemen, tapi juga panggung untuk memperlihatkan wajah Islam Indonesia yang damai, terbuka, dan peduli.
Melalui puisi, Indonesia mengirim pesan yang jelas: bahwa perjuangan Palestina bukan isu asing, melainkan bagian dari nurani kolektif umat. Dan bahwa seni tetap menjadi bahasa paling kuat dalam membangun jembatan solidaritas lintas negara.*