PORTALBANTEN – Dalam suasana yang penuh keprihatinan namun juga keteguhan solidaritas, peringatan 77 tahun Nakba digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu malam, 22 Mei 2025. Dengan tajuk “Palestine Belongs to Palestinians and We Will Never Leave”, acara ini menjadi panggung refleksi dan diplomasi kultural atas konflik berkepanjangan yang masih membelenggu rakyat Palestina.
Di tengah ratusan tamu undangan yang hadir, mulai dari pejabat negara, duta besar sahabat, aktivis kemanusiaan, hingga diaspora Palestina pesan utama dari acara ini jelas: perlawanan terhadap penjajahan tak selalu harus lewat senjata. Budaya, seni, dan suara-suara nurani juga bisa menjadi alat perjuangan yang tak kalah kuat.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia dalam sambutannya menyoroti bahwa tragedi Nakba bukan hanya tentang pengusiran fisik, melainkan juga penghapusan identitas, narasi, dan ingatan budaya Palestina. Ia menyebut data UNESCO yang menunjukkan lebih dari seratus situs budaya telah rusak akibat agresi militer di Gaza sejak Oktober 2023.
“Ketika bangunan, masjid, sekolah, museum dihancurkan, itu bukan hanya serangan militer, tapi penghapusan sejarah. Ini genosida budaya yang berlangsung pelan, namun menghantam keras fondasi sebuah bangsa,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa peran Indonesia dalam isu Palestina tidak hanya terbatas pada diplomasi politik, tetapi juga pada upaya memperkuat solidaritas budaya, baik lewat pendidikan, seni, hingga kolaborasi internasional di ranah multilateral.
Puisi Karya Taufiq Ismail dan Ricky Kurniawan Menggetarkan
Acara yang difasilitasi Kedutaan Besar Palestina ini menampilkan penayangan dokumenter tentang Gaza, monolog menyentuh dari penulis Asma Nadia tentang seorang anak korban agresi, serta pembacaan puisi “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu” oleh Ricky Kurniawan, berdasarkan karya legendaris Taufiq Ismail.
Puisi tersebut menjadi penutup yang menggugah. Bukan sekadar syair, tapi seruan bahwa harapan dan identitas tidak bisa dibunuh begitu saja.