JAKARTA - Dunia maya kini telah menjadi medan pertempuran baru bagi keamanan negara. Ancaman siber yang semakin canggih tidak lagi sekadar ancaman teknologi, melainkan berpotensi mengganggu stabilitas nasional. Untuk menghadapi tantangan ini, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemenhan), Mirage Defence, dan ST Engineering menyelenggarakan pelatihan keamanan siber perdana yang ditujukan bagi unit siber TNI.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari ini digelar di Jakarta dengan melibatkan 20 peserta dari berbagai instansi, termasuk Kemenhan, BAIS, Universitas Pertahanan, serta unit-unit siber TNI. Program ini dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan teknis dan strategis dalam menghadapi ancaman digital yang semakin kompleks.
Tidak hanya berbasis teori, pelatihan ini juga mencakup simulasi penanganan insiden siber dalam skenario yang dirancang menyerupai kondisi nyata. Langkah ini memungkinkan peserta mengasah kemampuan dalam merespons serangan siber dengan cepat dan tepat.
Menurut Ivan Lee, Wakil Presiden ST Engineering, keterlibatan mereka dalam pelatihan ini adalah bagian dari komitmen mendukung Indonesia dalam membangun pertahanan digital yang kuat. "Dengan berbagi keahlian dan pengalaman, kami berharap dapat membantu TNI dan mitra lainnya menghadapi ancaman dunia maya yang semakin kompleks," ujar Ivan Lee.
Sementara itu, Ary Lestari, Direktur Pengembangan Bisnis Mirage Defence, menekankan pentingnya sinergi antara sektor pertahanan dan mitra swasta dalam meningkatkan kapabilitas keamanan siber Indonesia. "Pelatihan ini adalah langkah strategis untuk memastikan Indonesia memiliki pertahanan digital yang tangguh, mengingat ancaman dunia maya berdampak pada banyak sektor, termasuk militer," katanya.
Brigjen Juinta Sembiring, Komandan Satuan Siber TNI, menyampaikan pesan Panglima TNI, Jenderal Agus Subianto, yang menekankan bahwa ancaman siber bukan sekadar risiko teknologi, melainkan ancaman langsung terhadap kedaulatan negara. "Kesiapan siber TNI harus ditingkatkan agar dapat melindungi infrastruktur kritis nasional," tegasnya.
Laksamana Pertama Arif Hanan, Sekretaris Kepala Bainstrahan, menambahkan bahwa pertahanan siber adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya TNI. "Kita harus membangun kolaborasi yang kuat untuk menghadapi tantangan ini," ujarnya dalam pidato pembukaan pelatihan.
Dengan pelatihan ini, diharapkan Indonesia dapat memperkuat pertahanan digitalnya dan memastikan bahwa unit siber TNI serta mitra terkait memiliki keterampilan yang memadai dalam menghadapi ancaman dunia maya yang semakin kompleks. Kolaborasi antara Kemenhan, Mirage Defence, dan ST Engineering menjadi langkah strategis dalam menciptakan ekosistem pertahanan digital yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perkembangan teknologi global.*