PORTALBANTEN — Penutupan Posko Nasional Hari Raya Idul Fitri (RAFI) 2025 yang dimulai 17 Maret hingga 11 April 2025, sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap tren baru dalam pola konsumsi energi masyarakat selama masa mudik dan arus balik. Di tengah tingginya mobilitas warga, konsumsi bensin mengalami lonjakan signifikan, sementara penggunaan solar dan avtur justru menurun dibanding tahun sebelumnya.

Menurut laporan Direktorat Bahan Bakar Minyak BPH Migas, konsumsi harian bensin naik sekitar 7 persen dibanding hari biasa, dengan puncak terjadi pada 29 Maret 2025 untuk arus mudik. Ini mengindikasikan semakin dominannya penggunaan kendaraan pribadi berbahan bakar bensin dalam mobilitas Lebaran tahun ini. Juga dilaporkan pasokan listrik aman di tahapan tersebut.

Namun berbeda dengan bensin, produk gasoil seperti solar justru mengalami penurunan hingga 19 persen. Hal ini disinyalir berkaitan dengan berkurangnya aktivitas angkutan barang selama masa libur panjang. Avtur sebagai bahan bakar pesawat juga mencatat tren penurunan secara tahunan, meskipun sempat melonjak saat arus balik pada 7 April.

“Pergeseran ini memperlihatkan kecenderungan masyarakat lebih memilih moda transportasi pribadi dan darat ketimbang angkutan umum berbasis solar maupun pesawat terbang,” ungkap Sentot Harijady, Direktur BBM BPH Migas, dalam konferensi penutupan Posko RAFI, Jumat (11/4).

Sementara itu, konsumsi LPG menunjukkan tren berbeda. Pertamina mencatat kenaikan konsumsi LPG sekitar 4,2 persen dibanding tahun lalu. Kenaikan terjadi pada baik LPG bersubsidi maupun non-subsidi. Ini menandakan tingginya aktivitas rumah tangga selama Lebaran, terutama dalam kegiatan memasak dan konsumsi domestik.

Yang menarik, meski terjadi lonjakan pada hari-hari tertentu, secara keseluruhan total konsumsi BBM justru menurun dibandingkan Lebaran 2024. Konsumsi bensin turun 6 persen, avtur turun 4 persen, dan minyak tanah menurun 9 persen. Namun gasoil sempat dilaporkan BPH Migas mengalami kenaikan tahunan 11 persen, meski data Pertamina menunjukkan penurunan harian.

Terlepas dari perbedaan data tersebut, kedua pihak sepakat bahwa ketersediaan stok energi tetap terjaga dengan baik. Ketahanan stok BBM berada di kisaran 19–21 hari, cukup untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama periode mudik dan balik.

Pola konsumsi energi yang berubah ini tidak hanya menggambarkan tren mobilitas masyarakat, tetapi juga menandai pergeseran preferensi dan kebiasaan selama hari raya. Di sisi lain, hal ini juga menjadi catatan penting bagi pemerintah dan pelaku energi dalam merancang strategi distribusi ke depan.*