PORTAL BANTEN - Media sosial tengah diramaikan dengan laporan resmi dari Direktorat Analisis National Strategic Security Agency (NSA) Republik Indonesia mengenai kematian misterius diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan. Dalam laporan tersebut, terungkap bahwa Arya terlibat dalam misi berisiko tinggi yang tidak tercantum dalam dokumen resmi Kemenlu, namun diduga didukung secara informal oleh Direktorat Perlindungan WNI.

Kematian Arya diduga kuat tidak wajar, dengan indikasi bahwa ia mungkin dibungkam karena menyentuh kepentingan jaringan perdagangan orang lintas negara. Kombes Ade Ary Syam Indradi, Kabid Humas Polda Metro Jaya, saat ditanya mengenai laporan tersebut, menyatakan, “Kami masih melakukan penyelidikan, belum bisa menyimpulkan. Harap rekan-rekan wartawan bersabar,” kata Ade, Kamis (24/7).

Ketika ditanya apakah laporan analisis NSA yang beredar di media sosial itu bisa dianggap hoax, Ade tidak memberikan jawaban pasti. “Harus bijaklah bermedia sosial, tunggu keterangan resmi. Kami masih berupaya keras menuntaskan penyelidikan ini, nanti kami umumkan kalau sudah selesai,” tambahnya.

Dalam unggahan yang dibagikan oleh akun Instagram @nationalsecurity.id, terdapat laporan autopsi dan misi rahasia Arya yang diduga terkait dengan jaringan perdagangan manusia. “Laporan terbaru NSA RI, tanggal 22 Juli 2025, Subjek: Almarhum Arya Daru Pangayunan, Diplomat Kemenlu RI, Laporan Independen,” tulis akun tersebut.

Dokumen yang diklaim disusun oleh Direktorat Analisis Strategis NSA RI ini diberi klasifikasi “Rahasia Tinggi/Internal NSA RI” dan mengulas detail tugas terakhir Arya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brasilia, Brazil. Arya dilaporkan tengah menyelidiki kasus perdagangan manusia dan buruh migran Indonesia di wilayah Amerika Latin, termasuk Brazil, Suriname, dan Paraguay.

Ia juga disebut menerima laporan dari LSM HAM internasional serta diaspora Indonesia mengenai perlakuan tidak manusiawi terhadap pekerja migran asal Indonesia. Dalam dokumen tersebut, Arya mengirim memo diplomatik rahasia yang mengungkap dugaan keterlibatan oknum pejabat lokal Brazil dan jaringan mafia internasional dalam skema penyelundupan manusia.

Lebih lanjut, Arya diklaim menjalin komunikasi informal dengan beberapa lembaga, termasuk Dinas Intelijen Austria (BVT) dan Interpol Brazil, untuk mengumpulkan bukti serta melindungi para korban dan whistleblower dari kalangan WNI. Sebelum ditemukan meninggal, Arya juga mengirimkan sinyal bahaya, termasuk email yang menyatakan, “Mereka bukan hanya jaringan, mereka mengendalikan sistem di dalam. Aku akan kirim semua bukti sebelum aku dibungkam.”

Ia juga sempat mengirim sinyal lokasi darurat dan meninggalkan pesan suara sebelum ditemukan tak bernyawa di kamar indekosnya di Menteng, Jakarta Pusat, awal Juli lalu.

Menanggapi ramainya unggahan tersebut, Mohammad Choirul Anam, komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), menegaskan bahwa hingga kini belum ada hasil autopsi resmi atas jenazah Arya. “Sampai detik ini belum ada hasil autopsi. Jadi, kalau itu (unggahan) berdasarkan autopsi, enggak ada,” ujar Anam, Kamis (24/7).