PORTAL BANTEN – Banjir bandang yang menerjang Kalimantan Selatan pada Desember 2025 ini menjadi ujian besar bagi kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana hidrometeorologi. Ribuan warga terdampak berhasil dievakuasi berkat langkah cepat dan terkoordinasi yang telah disiapkan sejak jauh hari.

Hujan deras yang mengguyur selama berjam-jam menyebabkan luapan air di enam kabupaten: Tabalong, Balangan, Banjar, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, dan Tanah Laut. Ketinggian air bahkan mencapai atap rumah di beberapa titik, memaksa warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Di Balangan, salah satu wilayah terdampak paling parah, tercatat lebih dari 1.600 kepala keluarga terdampak dan hampir 1.500 rumah terendam. Pemerintah daerah bersama tim SAR, TNI, Polri, dan relawan bergerak cepat mengevakuasi warga ke pos-pos pengungsian yang telah disiapkan sebelumnya.

Langkah antisipatif pemerintah provinsi terbukti krusial. Sejak 12 November 2025, Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin telah menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi. Dengan status ini, seluruh perangkat daerah dapat mengerahkan sumber daya dan logistik lebih awal, mempercepat respons saat bencana benar-benar terjadi.

Koordinasi lintas instansi diperkuat, dan kesiapsiagaan personel ditingkatkan. Di Kecamatan Paringin, hampir 3.000 warga berhasil dievakuasi dalam waktu singkat. Pemerintah provinsi menilai kapasitas daerah masih memadai untuk menangani situasi, sehingga belum ada rencana menaikkan status ke darurat nasional.

Fenomena ini mengingatkan pada banjir besar yang melanda Kalimantan Selatan pada 2021. Saat itu, kerugian ditaksir mencapai lebih dari satu triliun rupiah. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting yang mendorong peningkatan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang kini makin sering terjadi.

Banjir bandang di Kalimantan Selatan juga mencerminkan pola bencana yang tengah melanda berbagai wilayah Indonesia, dari banjir di Sumatera hingga longsor di Jawa dan Bali. Semua dipicu oleh cuaca ekstrem yang melanda secara luas.

Pemerintah berharap, kombinasi antara kesiapan dini, respons cepat, dan kesadaran masyarakat dapat menjadi fondasi kuat dalam menghadapi potensi bencana yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal tahun depan.*