PORTAL BANTEN - Biaya pembangunan sumur bor senilai Rp100–150 juta yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat penanganan bencana di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026), menuai perbincangan di kalangan warganet. Sejumlah komentar menyoroti angka tersebut yang dinilai terlalu mahal.

Namun, biaya tersebut bukanlah untuk sumur bor biasa, melainkan sumur bor khusus penanggulangan bencana dengan spesifikasi teknis dan kapasitas besar untuk memenuhi kebutuhan air bersih ribuan warga terdampak.

Dalam rapat terbatas di Aceh Tamiang, Presiden Prabowo berkoordinasi dengan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto serta Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Rapat membahas pemenuhan air bersih bagi warga di hunian sementara (huntara) akibat banjir dan longsor di Sumatera Utara.

Satu unit sumur bor bencana dirancang melayani sekitar 4.200 jiwa atau 1.200 kepala keluarga, sebagai solusi cepat dan berkelanjutan di lokasi terdampak.

Spesifikasi Sumur Bor Bencana

Sumur bor untuk penanganan bencana adalah sumur artesis dengan kedalaman 120–130 meter. Sumur ini dilengkapi pompa submersible berkapasitas sekitar 5.000 liter air per hari, sehingga mampu memenuhi kebutuhan air bersih skala massal.

Sebagai perbandingan, sumur bor rumah tangga umumnya memiliki kedalaman 20–50 meter dengan kapasitas terbatas. Perbedaan spesifikasi inilah yang membuat biaya pembangunan sumur bor bencana mencapai Rp150 juta dan dinilai wajar secara teknis.

Program BNPB dan Pusterad

BNPB bersama Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad) telah membangun sumur bor di sejumlah wilayah rawan krisis air, bahkan sebelum bencana terjadi. Langkah ini diambil karena sekitar 65 persen wilayah Aceh mengalami gangguan pasokan air akibat kerusakan jaringan PDAM dan pencemaran sungai.