PORTAL BANTEN – Di antara pidato-pidato diplomatik di Kedubes Palestina dan data mengerikan soal kehancuran Gaza, satu momen sunyi justru menggema paling dalam: ketika puisi dibacakan.

Peringatan 77 tahun Nakba yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu malam (22/5), bukan sekadar forum politik atau diplomasi kemanusiaan. Di akhir acara, suasana berubah hening saat puisi karya Taufiq Ismail berjudul “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu” dibacakan oleh Taufiq Ismail san juga diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh anggota DPRD Jawa Barat Ricky Kurniawan. Tak ada teriakan. Tak ada musik keras. Hanya bait-bait yang menukik ke dalam kesadaran tentang luka, pengusiran, dan harapan yang tak pernah mati.

Puisi sebagai Memori Kolektif

Taufiq Ismail, penyair besar Indonesia, sejak lama dikenal sebagai suara nurani dunia Islam dan kemanusiaan. Puisinya tentang Palestina bukan sekadar ekspresi emosional, tapi dokumentasi sejarah dan jeritan jiwa yang tak bisa dibungkam. Dalam acara ini, Ricky Kurniawan membawakannya dalam bahasa arab, bukan hanya sebagai politisi, tapi sebagai manusia yang ikut terluka.

“Dalam dunia yang makin sibuk mencari alasan untuk diam, puisi adalah cara untuk terus mengingat,” ucap Ricky sebelum membacakan bait-bait yang menggambarkan duka panjang rakyat Palestina, yang terusir dari tanahnya sendiri sejak 1948.

Membaca Bukan Hanya untuk Dikenang, Puisi Bisa Menyentuh Jiwa

Penampilan Ricky menjadi salah satu titik emosional dalam rangkaian peringatan yang dihadiri lebih dari 200 undangan, termasuk Menteri Kebudayaan RI, Duta Besar Palestina, serta tokoh-tokoh dari MPR, Kedutaan, dan dunia seni.

Melalui puisi, perlawanan terhadap penjajahan dan penghapusan identitas Palestina tidak hanya bersifat politis, tapi juga estetis. Ia membuktikan bahwa kata-kata masih bisa menjadi senjata paling tajam, ketika dunia mulai kelelahan menanggapi konflik yang tak kunjung usai.

"Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu” Puisi Itu Tak Selesai di Panggung