PORTALBANTEN — Nama Tia Rahmania belakangan ini makin diperbincangkan, bukan hanya karena keberaniannya menginterupsi Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron di forum Lemhannas, tapi juga karena perjuangannya yang tak gentar melawan ketidakadilan di internal partai. Terbaru, caleg muda dari PDIP ini berhasil memenangkan gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas sengketa suara di Dapil Banten I.
Anggota DPR RI terpilih, Tia Rahmania yang sebelumnya dinyatakan tak memenuhi syarat oleh PDIP dan digantikan oleh Bonnie Triyana, akhirnya diakui kembali sebagai peraih suara tertinggi setelah putusan pengadilan membatalkan keputusan Mahkamah Partai PDIP yang menetapkan Bonnie sebagai caleg terpilih. Tak hanya itu, surat pemecatan Tia dari partai pun turut dibatalkan.
"Alhamdulillah, bagi saya ini bukan sekadar soal kursi. Ini soal harga diri, soal kebenaran dan integritas politik," ujar Tia Rahmania. Kamis (17/4/2025). Ia menyebut selama ini terus berpegang pada nilai-nilai yang diajarkan Megawati Soekarnoputri, bahwa politik harus dijalankan dengan etika dan keberanian.
Dalam putusan PN Jakarta Pusat Nomor 603/Pdt.Sus-Parpol/2024, Tia Rahmania tidak terbukti melakukan penggelembungan suara seperti yang dituduhkan Bonnie saat sidang Mahkamah Partai. Bahkan Bonnie dinyatakan melakukan perbuatan melawan hukum dan diwajibkan membayar ganti rugi Rp4 miliar. Belum diketahui apakah ada langkah hukum lainnya atas putusan tersebut.
Tia Rahmania Sosok yang Ramai Pernah Kritik Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron
Tia Rahmania sebelumnya menjadi sorotan nasional setelah secara lantang menginterupsi Nurul Ghufron dalam forum resmi Lemhannas saat pembekalan anggota DPR dan DPD. Ia mengkritik keras kondisi KPK dan integritas pimpinannya, sekaligus menyuarakan keresahan banyak pihak atas lemahnya pemberantasan korupsi.
Aksi itu dianggap publik sebagai cerminan keberanian politisi perempuan muda di tengah atmosfer politik yang kerap didominasi kompromi dan basa-basi. "Saya hanya menyuarakan apa yang banyak orang pikirkan, tapi takut ucapkan," katanya waktu itu.
Perjalanan politik Tia tak mudah. Selain polemik internal partai dan pencoretannya dari daftar caleg terpilih, ia juga sempat menghadapi tekanan politik dari berbagai pihak karena sikap kritisnya. Namun, konsistensi sikap membuatnya justru mendapat simpati dari banyak kalangan, termasuk di luar PDIP.
Direktur Lembaga Kajian Politik Nusantara, Akhmad Fadhli, menyebut Tia sebagai "figur muda dengan mental oposisi di internal kekuasaan yang langka." Ia menilai, di era politik transaksional saat ini, politisi seperti Tia penting untuk menjaga check and balance dalam sistem.