PORTALBANTEN– Insiden tragis yang menewaskan seorang pegawai muda Bank Indonesia (BI) kembali mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental di lingkungan kerja, khususnya bagi generasi muda profesional. Korban berinisial RANK (23), yang menjabat sebagai asisten manajer sejak Januari 2025, diketahui melakukan aksi bunuh diri dari rooftop Gedung BI pada Senin (26/5).
Kapolsek Metro Gambir Kompol Rezeki R Respati mengatakan bahwa korban tiba di kantor lebih pagi dari biasanya, sekitar pukul 05.48 WIB. Berdasarkan rekaman CCTV, ia menuju lantai 15 dan meloncat dari sisi barat rooftop gedung pada pukul 06.07 WIB.
“Iya, (aksi) bunuh diri. Sudah dipastikan lewat rekaman CCTV,” ujar Respati.
Pihak kepolisian memastikan tidak ada tanda kekerasan pada tubuh korban. Setelah kejadian, proses identifikasi dan pemakaman langsung dilakukan dengan koordinasi pihak BI dan keluarga.
Tekanan di Usia Muda dan Budaya Kerja yang Kompetitif
Tragedi ini menyoroti beban yang mungkin tak kasatmata dihadapi oleh profesional muda. Di usia yang masih sangat belia, RANK telah menempati posisi asisten manajer sebuah pencapaian yang tidak semua orang raih pada usia 23 tahun. Namun, tekanan pekerjaan di sektor keuangan, ekspektasi tinggi, serta tuntutan produktivitas bisa menjadi pemicu gangguan psikologis jika tidak diimbangi dengan dukungan yang memadai.
Psikolog kerap menyebut bahwa individu usia awal 20an rentan mengalami tekanan internal maupun eksternal di dunia kerja mulai dari kecemasan akan masa depan, perbandingan sosial, hingga rasa tidak cukup meski telah berprestasi.
Kejadian tragis ini menjadi panggilan bagi dunia kerja untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis karyawan. Lingkungan profesional, terlebih institusi besar seperti bank sentral, perlu tidak hanya membangun sistem kerja yang efisien, tapi juga sistem pendampingan mental yang responsif.
Meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental, menyediakan layanan konseling internal, serta melatih atasan untuk mengenali tanda-tanda tekanan psikologis bisa menjadi langkah preventif. Apalagi, banyak generasi muda yang belum memiliki keterampilan menghadapi stres berat, namun merasa harus selalu “kuat” dan “berhasil”.