PORTAL BANTEN - Universitas Bung Karno (UBK) menjadi tuan rumah bagi sebuah inisiatif penting yang mengangkat isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ke tengah ruang akademik. Melalui pemutaran film Suamiku, Lukaku dan diskusi publik bertema “Kenali KDRT, Ajakan Berhenti Diam”, kampus ini menegaskan perannya sebagai ruang aman bagi edukasi dan advokasi sosial.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB), SinemArt, Tarantella Pictures, The Big Pictures, dan Women’s Crisis Center (WCC) Puantara. Bertempat di Aula Dr. Ir. Soekarno, acara ini menghadirkan tokoh-tokoh penting seperti Ketua Komnas Perempuan Dr. Maria Ulfah Anshor, CEO SinemArt David S. Suwarto, Direktur WCC Puantara Siti Husna Lebby Amin, serta dua figur publik yang juga penyintas KDRT, Mieke Amalia dan Chika Waode.

Rektor UBK, Dr. Ir. Sri Mumpuni Ngesti Rahaju, menyampaikan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga tempat membangun kesadaran sosial. Ia menekankan bahwa film dapat menjadi alat refleksi yang kuat untuk membuka ruang diskusi yang selama ini sulit dimulai.

Dr. Maria Ulfah menyoroti bahwa KDRT masih menjadi bentuk kekerasan terhadap perempuan yang paling dominan di Indonesia. Ia mengapresiasi keberanian SinemArt dalam mengangkat isu ini ke layar lebar, karena selama ini kekerasan domestik kerap tersembunyi di balik norma dan stigma sosial.

David S. Suwarto menjelaskan bahwa film Suamiku, Lukaku bukan sekadar karya seni, tetapi bentuk tanggung jawab sosial. Ia berharap film ini dapat menjadi pemantik perubahan, mendorong korban untuk bersuara dan masyarakat untuk lebih peduli.

Mieke Amalia dan Chika Waode berbagi pengalaman pribadi mereka sebagai penyintas KDRT. Keduanya menekankan pentingnya kemandirian perempuan dan keberanian untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat. Cerita mereka menjadi bukti nyata bahwa kekerasan bisa menimpa siapa saja, dan bahwa pemulihan dimulai dari keberanian untuk bicara.

Siti Husna dari WCC Puantara menambahkan bahwa banyak kasus KDRT tidak masuk ke ranah hukum karena korban memilih jalur perceraian tanpa menyebut kekerasan sebagai alasan utama. Ia mengajak masyarakat untuk lebih aktif mencari bantuan dan tidak membiarkan kekerasan menjadi rahasia yang dipendam.

Lia Nathalia dari KPB menutup acara dengan ajakan untuk membangun solidaritas komunitas. Menurutnya, perubahan tidak hanya datang dari korban, tetapi juga dari lingkungan yang mendukung dan berani bersuara.

Film Suamiku, Lukaku, yang disutradarai oleh Viva Westi dan Sharad Sharan, dibintangi oleh Ayu Azhari, Acha Septriasa, Baim Wong, Raline Shah, dan Mathias Muchus. Film ini menjadi medium penting untuk menyuarakan realitas yang sering disembunyikan, sekaligus mengajak masyarakat untuk tidak lagi menormalisasi kekerasan dalam rumah tangga.*