PORTAL BANTEN – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau dan melaporkan berbagai kejadian bencana yang terjadi di beberapa wilayah. Berikut adalah rangkuman kondisi dan penanganan terkini dari sejumlah lokasi terdampak hingga hari ini, Sabtu (12/7).
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Nagari Solok Bio-Bio, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, pada Kamis (10/7) sekitar pukul 20.00 WIB. Sekitar satu hektar lahan terbakar, dan upaya pemadaman mengalami kendala karena titik api berada di tebing curam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat terus berupaya memadamkan api.
Di Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan, bencana hidrometeorologi berupa tanah longsor masih dalam penanganan. Kejadian ini terjadi pada Sabtu lalu (5/7), dan hingga Jumat (7/11), jalan di Desa Kompang, khususnya di Dusun Bonto dan Dusun Barugae, masih tertutup longsor. Akibatnya, Kampung Lampara dan Parigi terisolir. Sebanyak 20 desa dan 3 kelurahan di 6 kecamatan terdampak. BNPB telah mengirimkan tim untuk memberikan pendampingan penanganan darurat dan memantau situasi lebih lanjut.
Sementara itu, banjir yang melanda Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Kamis (10/7) telah surut. Banjir sempat merendam satu desa di satu kecamatan, namun tidak ada korban jiwa atau luka-luka. Sekitar 40 KK terdampak peristiwa ini.
Di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, angin kencang menyebabkan kerusakan parah pada 23 rumah, serta fasilitas kesehatan dan umum lainnya pada Kamis (10/7). Sebanyak 84 KK atau 275 jiwa terdampak, dan masyarakat di beberapa gampong telah mendirikan tenda darurat. Bantuan logistik dari dinas sosial setempat mulai disalurkan.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara, pada Jumat (11/7). BPBD mencatat total luas lahan terbakar mencapai 9 hektar di dua kecamatan. Berkat koordinasi antara BPBD dan masyarakat, api berhasil dipadamkan pada hari yang sama.
Di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, banjir merendam lima desa di dua kecamatan akibat jebolnya tanggul DAS Marisa pada Kamis (10/7) pukul 14.00 Wita. Sebanyak 70 KK atau 218 jiwa terdampak, dengan puluhan rumah dan fasilitas umum terendam. BPBD terus melakukan evakuasi, pendataan, dan koordinasi penanganan.
Menanggapi situasi berbahaya yang dapat berujung pada bencana, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada, terutama yang dipicu oleh anomali di musim kemarau. BNPB juga telah melakukan rekayasa cuaca melalui operasi modifikasi cuaca. Untuk mencegah karhutla, kolaborasi dari berbagai pihak sangat penting dalam upaya pencegahan dini sebelum munculnya titik api dan penyebarannya yang lebih luas.*