PORTAL BANTEN - Rabu, 16 Juli 2025 kemarin, menjadi hari yang bersejarah bagi dunia musik klasik Indonesia. Di Bimasena, The Dharmawangsa Hotel, konser pertama para pemenang Ananda Sukarlan Award 2025 digelar dengan meriah. Acara ini juga menandai bergabungnya Ananda Sukarlan sebagai anggota Dewan Sosial Bimasena, khususnya dalam bidang Seni dan Inklusivitas.
Tiga pemenang yang tampil adalah Wirawan Cuanda, seorang bariton yang meraih juara kedua dalam kategori Tembang Puitik, Andreas, pemain biola yang menempati posisi ketiga di kategori instrumen gesek, dan Michael Anthony Kwok, pianis berbakat yang berhasil meraih gelar juara utama ASA 2025.
Yang menarik perhatian adalah kisah Michael Anthony Kwok, seorang pianis muda yang telah diakui sebagai "jenius" oleh Ananda Sukarlan. Michael, yang merupakan penyandang tunanetra dan autisme, berhasil mengatasi segala rintangan untuk meraih kemenangan di ajang musik klasik paling bergengsi di Indonesia ini.
"Saya tidak mengumbar istilah 'jenius', dan saya memang pelit memberi nilai kalau duduk sebagai juri. Namun, ini pertama kalinya saya memberikan nilai 98 kepada seorang kompetitor. Itu pun karena saya anggap, nilai 99 hanya untuk Lady Gaga, dan nilai 100 adalah untuk Tuhan yang maha sempurna," kata Ananda Sukarlan, yang diakui sebagai salah satu seniman paling berpengaruh di Asia oleh majalah Tatler Asia.
Sebagai penghargaan atas prestasinya, Michael Anthony Kwok mendapatkan beasiswa penuh untuk mengikuti kursus musim panas di Perancis tahun depan, yang mencakup tiket pesawat pulang-pergi, uang saku, dan biaya sekolah, berkat dukungan dari Institut Francais d'Indonesie.
Dengan pencapaian ini, Michael membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih impian. Ananda Sukarlan juga berencana untuk menciptakan karya baru untuk piano solo yang sangat virtuosik, yang mungkin akan diberi judul "Rapsodia Nusantara baru", didedikasikan khusus untuk Michael.
Pemerintah Perancis melalui IFI telah mendukung Ananda Sukarlan Award sejak 2014, memberikan beasiswa kepada pemenang untuk mengikuti masterclasses di Perancis. Selain itu, tiga musikus Perancis dari Trio Saint-Saens akan berkunjung ke Indonesia pada bulan September, memberikan kesempatan bagi pemenang ASA lainnya untuk belajar dari mereka.
Australian Institute of Music juga memberikan beasiswa kuliah untuk dua pemenang ASA lainnya sejak edisi 2025 ini. Ananda Sukarlan akan menjadi Composer in Residence di institut musik bergengsi di Sydney, di mana para mahasiswanya akan mempelajari karya-karya maestro Indonesia yang telah menerima penghargaan sipil tertinggi dari dua negara Eropa.
Menariknya, banyak pemenang ASA dari edisi sebelumnya hadir di babak final ini, termasuk pianis Inge Buniardi, Dr. Edith Widayani, Randy Ryan, dan Joshua Victor, yang diundang oleh Ananda untuk menyerahkan Piala Bergilir Ananda Sukarlan Award yang bersejarah.