PORTALBANTEN -- Bulan Solidaritas Palestina (BSP) kembali hadir, dan kali ini, Forum Akademisi Indonesia (FAI) memberikan apresiasi kepada Aqsa Working Group (AWG) atas inisiatifnya. Kegiatan ini merupakan bentuk perlawanan moral dan politik terhadap tindakan kejam yang terus dilakukan oleh Zionis Israel di Palestina.

"Agenda AWG ini merupakan bentuk penguatan dukungan politik dan kemanusiaan bangsa Indonesia terhadap Palestina yang telah diwariskan para pemimpin nasional sejak era Presiden Soekarno," ungkap Aat Surya Safaat, Penasehat FAI, dalam perbincangan di Jakarta, Minggu (16/11).

Menurut Aat, bulan November memiliki makna yang mendalam dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Palestina. Beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan ini antara lain Deklarasi Balfour pada tahun 1917, wafatnya Yasser Arafat pada tahun 2004, serta Deklarasi Kemerdekaan Palestina di Aljazair pada tahun 1988.

"November adalah bulan yang sarat makna bagi Palestina, dan tahun ini BSP mengusung tema 'Bergerak berjamaah bangun kembali Gaza demi pembebasan Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina.' Ini adalah panggilan sejarah untuk terus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya perlawanan terhadap penjajahan," tambahnya.

BSP 2025 menjadi bagian dari gerakan global masyarakat sipil yang mendukung Palestina, tanpa memandang latar belakang agama atau ras. Sepanjang bulan ini, AWG bersama mitra nasionalnya akan melaksanakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya pembebasan Masjid Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina.

Beberapa aksi utama yang direncanakan antara lain pengibaran bendera Palestina dan Indonesia di 23 gunung di seluruh Indonesia, serta di Sungai Kapuas dan Sungai Mahakam. Selain itu, akan ada expo Palestina, bedah buku di Taman Ismail Marzuki, Festival Baitul Maqdis, dan kuliah umum tentang Palestina.

Aat juga menyoroti peran AWG dalam menjalankan diplomasi jalur kedua (second track diplomacy) selama 17 tahun terakhir. "Diplomasi jalur pertama yang hanya melibatkan pemerintah tidak cukup efektif. Oleh karena itu, peran publik dalam diplomasi sangat diperlukan untuk melengkapi upaya tersebut," jelasnya.

Dengan konsistensi dalam membela Palestina, AWG telah menjalankan fungsi diplomasi jalur kedua dengan baik. Sekitar 80 persen aktivitas mereka berfokus pada edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya pembebasan Masjid Al-Aqsa, sementara 20 persen sisanya adalah kegiatan penggalangan dana.

Dalam kerangka diplomasi ini, AWG, yang bernaung di bawah Pesantren Al-Fatah, juga berkolaborasi dengan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan Maemuna Center Indonesia untuk membangun Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) di Gaza City, Palestina.