PORTAL BANTEN - Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai pencapaian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) telah memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai bahwa klaim pemerintah terlalu optimis dan tidak mencerminkan data historis PNBP, terutama dari sektor sumber daya alam (SDA).
Dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi XII DPR RI, Bahlil mengungkapkan bahwa setoran PNBP hingga 10 November 2025 telah mencapai Rp200,66 triliun, yang setara dengan 78,74 persen dari target APBN 2025 sebesar Rp254,83 triliun. Ia juga melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (20/11/2025), bahwa capaian PNBP telah menembus 85 persen dari target APBN.
Namun, pernyataan tersebut tidak lepas dari kritik. Uchok Sky menegaskan, jika benar PNBP telah mencapai 85 persen, maka Bahlil seharusnya lebih berhati-hati dalam menyampaikan data kepada publik dan Presiden.
“Semoga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tidak lagi mengumbar kebohongan kepada Presiden Prabowo. Termasuk klaim bahwa listrik PLN di Aceh sudah mencapai 93 persen pascabencana banjir dan longsor,” kata Uchok Sky dalam keterangannya, Rabu (17/12/2025).
Uchok menilai presentasi Bahlil terlalu percaya diri dan kurang memperhatikan tren data PNBP secara menyeluruh. Ia merujuk pada realisasi pendapatan SDA tahun 2024 yang hanya mencapai Rp228,9 triliun atau 97,20 persen dari target APBN sebesar Rp235,5 triliun.
Lebih lanjut, Uchok mengungkapkan bahwa laporan keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2024 yang telah diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menunjukkan bahwa PNBP SDA mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, PNBP SDA tercatat sebesar Rp256,6 triliun, sementara pada 2023 mencapai Rp280,2 triliun.
“Artinya, dari 2023 ke 2024 terjadi kemerosotan pendapatan PNBP sebesar Rp23,6 triliun atau setara 8,44 persen. Ini penurunan yang mengkhawatirkan,” ujar Uchok Sky.
Atas dasar itu, CBA memperingatkan bahwa jika pada 2025 PNBP kembali gagal mencapai target, Presiden Prabowo Subianto diminta untuk segera mencopot Bahlil Lahadalia dari jabatannya sebagai Menteri ESDM.
“Karena kata-kata Bahlil selalu mengumbar kebohongan di depan publik dan melukai hati rakyat,” tegas Uchok.